Demi Anis Baswedan Capres, NesDem Korbankan Johnny G Plate

IDPOST.CO.ID – Mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menyebut kalau penetapan status tersangka terhadap Johnny G Plate sangatlah ganjal.

Menurutnya, Johnny G Plate dikorbankan untuk Anies Baswedan maju dalam konstelasi pilpres 2024.

Dalam kanal twitter miliknya, Natalius Pigai angkat bicara terkait penetapan Johnny sebagai tersangka korupsi BTS yang bernilai 8 triliun.

“Johnny Plate korban dan mengorbankan diri demi Anies Baswedan capres,” ungkap Natalius seperti dikutip Suara.com

Menurut Natalius, Politisi Nasdem bisa saja selamat dari kasus korupsi yang menjeratnya, hanya saja ia memilih untuk mengorbankan diri demi jalan Anies Baswedan menjadi capres semakin lapang.

Tidak hanya sampai disitu, Natalius memandang jika Johnny memilih langkah pembatalan Anies sebagai capres Nasdem, ia memiliki keyakinan Presiden Jokowi akan menyelamatkan Johnny dari kasus korupsi.

“Jika saja Johnny mau ngotot agar Anies dibatalkan jadi calon maka Megawati, Jokowi dan Luhut pasti loloskan Johnny. Mereka jahat. Ini analisa saya,” ungkap Natalius.

Johnny G Plate resmi menyandang kasus dugaan korupsi proyek BTS BAKTI Kominfo

Relawan Ganjar Umar Bonte Lakukan Rasis ke Anis Baswedan, Heikal Safar: Ia Gagal Faham

IDPOST.CO.ID – Pernyataan rasis relawan Ganjar, La Ode Umar Bonte tentang Anis Baswedan kembali dapat kritikan pedas.

Kali ini kritikan datang dari Ketua Umum Priboemi Heikal Safar, Sabtu 13 Mei 2023.

Menurutnya, Umar Bonte gagal faham tentang makna pribumi. Dan, Ketua DPP KNPI tidak memegang nilai toleransi kebangsaan.

Heikal juga ajak Umar Bonte melihat ke belakang, untuk menyaksikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada zaman menantang Kolonialisme Belanda.

“Saat itu, kita dari beragam jenis suku dan ras bangsa Indonesia bersama berusaha untuk merdeka dari golongan penjajah,” ingatnya.

Semestinya, katanya, Umar Bonte memberikan semangat kepada beberapa pemuda-pemudi di seluruh Indonesiasupaya jaga persatuan dan toleransi.

“Bukan justru jauh dari arti pribumi yang diharapkan oleh kita bangsa Indonesia yang selalu hidup rukun, damai, makmur, dan sejahtera,” katanya.

Menurut Heikal, secara keturunan atau keturunan, nasionalisme Anies tidak perlu disangsikan.

Politisi Partai NasDem menyebutkan, Anies yang dibawa di Kuningan, Jawa Barat, sebagaicucu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, Abdurrahman Baswedan.

Artinya, bekas Gubernur DKI Jakarta itu bukan anak atau cucu pembelot negara dan bukan anak atau cucu koruptor.

Heikal memandang, figur bekas rektor Kampus Paramadina itu mempunyai toleran jasmani rohani nasionalisme yang tinggi sekali pada kesatuan NKRI.

“Karena itu saya harap ke seluruh pihak tidak dapat kembali ada yang menambahkan jika dalam memakai istilah pribumi itu dengan sudut pandang yang negatif, apa lagi disalah definisikan dengan destruktif,” ingatnya.

Awalnya, dalam video yang diupload di akun Tiktok @UmarBonte_official, Umar Bonte mengatakan, Anies bukan keturunan pribumi. Umar Bonte sendiri menerangkan, ia tak pernah berniat rasis.

Malah kita ingin mengingat-ingat jika dalam panggung politikdi depan tidak bisa mengusung rumor rasis, mengejek, atau menggerakkan orang dalam kekuatan dianya.
“Sah-sah saja kita jadi presiden, jadi apakah itu sah-sah saja, tapi opsi politik saya bisa jadi jelaskan seperti itu,” kata Umar Bonte.

Meskipun begitu, Umar mohon maaf bila ada orang lain yang merasa terusik dengan video itu.

Relawan Ganjar Umar Bonte Serang Anis Baswedan dengan Rasis, Warganet Bongkar Boroknya

IDPOST.CO.ID – Pernyataan Relawan Ganjar, La Ode Umar Bonte tentang Anis Baswedan viral di media sosial.

Peryataan La Ode Umar Bonte dinilai rasis karena menyebut kalau Anis Baswedan bukanlah orang Indonesia.

Sontak saja peryataan tersebut menjadi buah bibir di media sosial Twitter.

Alih-alih mendapat dukungan, La Ode Umar Bonte malah mendapat cibiran dari para warganet.

Terbaru, sesorang membagikan sejumlah fakta tentang politisi PDIP asal Sultra tersebut.

Warganet membagikan perjalanan Umar Bonte saat menjabat sebagai anggota DPRD Kota Kendari.

“Jangan suka rasis kone ode, rekam jejak kamu juga seluruh org Sultra utamanya org dikendari spt saya tau siapa anda,” tulis akun @Rahm***

“Wuoyyy RASIS. PENCABULAN ANAK DI BAWAH UMUR LU!,” balas akun @Cece***, sembari menautkan potongan berita terkait.

“Bangsa asing? Asing nya dimana? Anda sudah Gila atau sakit Jiwa? Siapa yg anda bilang bangsa asing? Kalau tuduhan anda ke @aniesbaswedan tidak terbukti, anda bisa dipenjarakan. Atas dasar pasal penghinaan, pencemaran nama baik. Apakah anda sudah berhitung?,” tanya akun @Maen***.

“Ujung2nya kau di hinakan dgn keji,penjahat kelamin kau rupanya?,” cuap akun @Herr*** sembari memposting potongan pemberitaan media.

Dikutip dari kompas.com, Anggota DPRD Kota Kendari berinisial UB dilaporkan ke Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam kasus asusila.

UB, anggota dewan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) diduga telah menghamil remaja (16) dengan inisial AY. Saat ini, AY bahkan telah melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan.

Jumiati, ibu AY, mengaku terpaksa melaporkan kasus ini ke polisi lantaran anggota dewan itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Dia (UB) tidak bertanggung jawab, sudah dibantu saat pilcaleg malah dia kasih begini kita,” katanya, usai melaporkan oknum anggota DPRD Kendari di Polda Sultra, Jumat 27 Februari 2015.

Kasus yang menimpa anaknya, kata Jumiati, berawal sekitar bulan September 2014 lalu. Saat itu, UB mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di DPRD Kendari.

UB datang ke rumahnya di Kelurahan Kambu, Kecamatan Poasia, Kendari, untuk melakukan sosialisasi.

“Di situ dia melihat anak saya. Saya tidak tahu kalau setelah itu ada hubungan antara mereka berdua,” jelasnya.

Selang beberapa bulan, ia melihat perubahan di tubuh anaknya. Perutnya membesar, hingga akhirnya diketahui anaknya tengah hamil.

Jumiati lalu meminta pertanggungjawaban sang legislator untuk menikahi anaknya. UB kemudian menikahi AY di bawah tangan, tanpa surat nikah. Beberapa bulan kemudian, UB tidak lagi memberikan nafkah kepada istri sirinya.

UB hanya menafkahi anaknya selama dua bulan sebesar Rp500.000 per bulan. Setelah itu, oknum anggota dewan itu tidak pernah lagi menunaikan kewajibannya sebagai suami dan ayah.

Dijelaskan Jumiati, UB mengaku bahwa dia sudah lama pisah ranjang dengan istri pertamanya, bahkan sudah dalam pengurusan perceraian di pengadilan. Oleh karena itu, keluarganya mau menikahkan anaknya dengan wakil rakyat itu.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kabid Humas AKBP Soenarto melalui Kepala Sub Bidang (Kasubbid) Penerangan Masyarakat (Penmas) Polda Sultra Kompol Muhadi Walam membenarkan adanya laporan tersebut.

“Iya, benar, ada warga yang melaporkan anggota DPRD Kota Kendari telah melakukan tindak pidana asusila,” singkatnya