Nguri-uri Budaya Jawa, Sedekah Bumi Desa Kauman Wonosegoro 2025 Meriah Bersama Tim KKN UBY

Boyolali, Idpost.Id– Tradisi Nguri-uri Budaya Jawa kembali digelar di Desa Kauman, KecamatanWonosegoro, Kabupaten Boyolali, melalui acara Sedekah Bumi yang berlangsung meriah pada, Rabu (6/8) pukul 12.00 WIB.

Acara ini turut berkolaborasi dengan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Boyolali (UBY), serta dihadiri oleh Kepala Desa Kauman, Widodo, S.Pd., bersama warga setempat dari berbagai dusun dan RT.

Sedekah Bumi diawali dengan pameran ancak oleh setiap RT. Masyarakat menata hasil bumi, makanan, dan hiasan tradisional di atas ancak sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen dan berkah yang diterima.

Masing-masing RT menampilkan kreativitasnya dalam menghias ancak, sehingga suasana lapangan desa penuh warna dan nuansa tradisi.

Usai pameran, rangkaian acara dilanjutkan dengan karnaval yang diikuti oleh perwakilan setiap RT.

Karnaval ini mengusung tema berbeda-beda sesuai pembagian panitia, mulai dari seni budaya, hasil bumi, hingga tokoh pewayangan.

Warga dengan antusias memeriahkan arak-arakan, mengenakan kostum unik dan ornament khas Jawa yang memikat perhatian penonton.

Sebagai penutup, tradisi perebutan makanan ancak menjadi momen yang paling ditunggu. Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Widodo, S.Pd., warga berbondong-bondong berebut isi ancak yang dipercaya membawa berkah dan kemakmuran. Suasana penuh tawa, teriakan riang, dan semangat gotong royong terasa hangat di tengah masyarakat.

Acara Sedekah Bumi Desa Kauman 2025 ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai tradisi dan budaya Jawa tetap hidup dan lestari di tengah masyarakat.

Kehadiran Tim KKN UBY turut memberikan dukungan pada pelestarian budaya, sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga desa.

Gerakan Pangan Murah Boyolali Diserbu Warga, Polres Siapkan 5 Ton Beras

Boyolali, Idppost.Id –Ratusan warga di Boyolali, Jawa Tengah, menyerbu gerakan pangan murah yang digelar Polres Boyolali di halaman Kantor Kecamatan Banyudono, Kamis (14/8/2025) pagi.

Dalam waktu singkat, 5 ton beras SPHP, 1 ton minyak goreng, dan 100 kilogram telur ayam ludes terjual. Bahan pokok tersebut dijual dengan harga di bawah pasaran. Beras SPHP kemasan 5 kilogram dibanderol Rp57.000, minyak goreng Rp15.000 per liter, dan telur ayam Rp24.000 per kilogram.

Selain mendapatkan bahan pokok murah, warga juga memperoleh bendera merah putih gratis sebagai ajakan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Salah satu warga, Mulyono(45), mengaku, datang lebih awal untuk mendapatkan sembako murah karena antrian cukup panjang. Menurutnya, selisih harga dengan pasaran mencapai sekitar Rp10.000, sehingga sangat membantu di tengah tingginya harga kebutuhan pokok.

“Semoga pemerintah lebih memperhatikan masyarakat dan kegiatan ini jangan hanya digelar saat ini saja,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Boyolali AKBP Rosyid Hartanto menjelaskan, gerakan pangan murah ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia untuk membantu masyarakat di tengah mahalnya harga beras sekaligus menjaga stabilitas harga bahan pokok.

“Polres Boyolali menyediakan 5 ton beras SPHP, 1 ton minyak goreng, dan 100 kilogram telur ayam dengan harga terjangkau. Target kami menyalurkan 2.000 ton beras SPHP hingga 20 Agustus 2025, dan sejauh ini sudah tersalurkan 139 ton melalui jajaran polsek,” ujarnya.

Selain bahan pokok murah, Polres Boyolali juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian bendera merah putih secara cuma-cuma kepada masyarakat.

Puluhan Warga Boyolali Gelar Syukuran dan Wayang Dakwah Meriahkan Hari Anak Nasional

IDPOST.ID – Ratusan warga Dusun Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, merayakan Hari Anak Nasional (HAN) dengan cara unik dan penuh makna.

Syukuran dan pagelaran wayang dakwah digelar di halaman Masjid Agung Shiratalmustaqim pada Rabu 23 Juli 2025 malam yang turut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Acara ini diikuti sekitar 1.000 warga setempat. Tak hanya menjadi momen perayaan, kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai-nilai budaya dan ajaran agama kepada generasi muda, agar tumbuh dengan karakter yang kuat dan berintegritas.

Tokoh masyarakat Pagerjurang, Setiyono, mengatakan perayaan ini menjadi sarana penting untuk memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam membangun karakter anak-anak.

“Kita semua memiliki tanggung jawab besar mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas, tangguh, sekaligus memiliki daya saing tinggi dalam menyambut satu abad kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Acara puncak diwarnai dengan pentas wayang dakwah yang mengkombinasikan budaya tradisional dan dakwah keagamaan. Hadir pula KH Tri Harni Sugondo, penceramah dari Cawas, Klaten, yang memberikan tausiah serta motivasi kepada anak-anak dan para orang tua yang hadir.

Selain pagelaran seni dan ceramah, acara semakin meriah dengan penampilan musik hadroh oleh grup Ash Shirathalmustaqim, yang membuat suasana penuh semangat dan khidmat.

Tidak hanya sebagai bagian perayaan HAN, kegiatan ini juga dirangkai dengan ucapan terima kasih untuk dua anak Setiyono, yakni Adhinatamanggala Sakti Nugroho dan Admas Sakti Muktisai Bin Setiyono.

Setiyono berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan spiritual dan mental yang kuat bagi anak-anak sekaligus menjadi bekal mereka dalam menatap masa depan.

“Melalui sinergi peran keluarga, masyarakat, dan pelestarian budaya lokal, kami berharap anak-anak bisa menjadi penerus bangsa yang berjanji serta mampu menjaga nilai-nilai luhur di era globalisasi,” tutup Setiyono.

Layanan Kesehatan Gratis Digelar di Pasar Rakyat Kacangan Boyolali

IDPOST.ID – Layanan kesehatan gratis digelar di Pasar Rakyat Kacangan, Kecamatan Andong, Boyolali, Sabtu (19/7/2025). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puskesmas Andong, UPT Pasar Umum Kacangan, Perkumpulan Pedagang Pasar Rakyat (P3R) Kacangan, dan Koppaska.

Layanan ditujukan bagi para pedagang, pembeli, dan masyarakat umum yang beraktivitas di pasar. Kegiatan ini disambut antusias warga karena memberikan kemudahan akses layanan kesehatan secara langsung di lingkungan pasar.

Kepala UPT Pasar Umum Kacangan, Suroso, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada Puskesmas Andong yang telah hadir dan berharap program serupa bisa terus dilanjutkan.

“Ini sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Tengah, dan Bupati Boyolali, yang mendorong akses layanan kesehatan gratis bagi masyarakat, khususnya pelaku pasar,” kata Suroso.

Sementara itu, Ketua P3R Kacangan, Kamtar, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H. Menurutnya, layanan kesehatan menjadi upaya menarik minat masyarakat untuk tetap aktif di pasar.

“Sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar pada 26 Juni 2025 dalam acara syiar dakwah bersama yang dihadiri Wakil Bupati Boyolali, Dwi Fajar Nirwana,” jelas Kamtar.

Ia menambahkan, Pasar Rakyat Kacangan tidak hanya berperan sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, keagamaan, pendidikan, hingga promosi usaha.

“Hari ini menjadi momentum penting menjadikan pasar sebagai pusat pelayanan kesehatan. Ini juga mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.

Disdikbud dan Harpi Melati Boyolali Gelar Lomba Rias Pengantin Khas Wahyu Merapi Pacul Goweng

IDPOST.IDDinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali bekerja sama dengan Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Boyolali menggelar Lomba Rias Pengantin Khas Wahyu Merapi Pacul Goweng di Museum R. Hamong Wardoyo, Selasa (15/7/2025).

Sebanyak 23 peserta dari berbagai wilayah di Boyolali turut ambil bagian dalam lomba yang mengangkat kekayaan budaya lokal tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali, Eko Sumardiyanto, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya untuk meramaikan museum, tetapi juga sebagai sarana mengenalkan tata rias khas Boyolali kepada masyarakat luas.

“Harapan kami, tata rias ini bisa lebih dikenal masyarakat. Sehingga saat ada hajatan pernikahan, masyarakat bisa mengaplikasikan Rias Wahyu Merapi Pacul Goweng yang merupakan ciri khas budaya lokal Boyolali,” ujarnya.

Penasehat Harpi Melati Boyolali, Cetti Nuraini Sukarno, menyampaikan bahwa lomba ini merupakan upaya nyata pelestarian budaya daerah yang perlu digaungkan secara nasional.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi adanya lomba ini. Budaya seperti Rias Wahyu Merapi Pacul Goweng ini harus terus dilestarikan dan diperkenalkan ke seluruh Indonesia,” katanya kepada wartawan.

Menurutnya, Rias Wahyu Merapi Pacul Goweng merupakan riasan dan busana pengantin khas Boyolali yang terinspirasi dari masa Perang Diponegoro (1825–1830). Kisahnya bermula dari seorang prajurit di Stabelan, Kecamatan Selo, yang hendak menikah namun tidak diizinkan memakai busana Mataraman karena dianggap menyerupai raja.

“Mempelai perempuan memakai gelung tekuk, kebaya sederhana, jarik Sidomukti, bunga kinasih, bangun tulan yang dironce, dan paes hitam tanpa alas kaki,” jelasnya.

Tampilan pengantin pria yang menggunakan blangkon dipadukan dengan topi berlubang disebut warga sebagai Pacul Goweng karena menyerupai cangkul aus.

Meriahnya Sedekah Waduk Cengklik, Warga Boyolali Arak dan Rebut Gunungan Hasil Bumi

IDPOST.ID – Ribuan warga Boyolali tumpah ruah di kawasan Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah dalam tradisi sedekah waduk yang digelar meriah pada Sabtu (5/7/2025).

Tradisi tahunan ini ditandai dengan kirab budaya mengarak gunungan berisi hasil bumi yang kemudian diperebutkan warga sebagai bentuk syukur sekaligus harapan atas berkah dan keselamatan.

Gunungan yang terbuat dari berbagai hasil pertanian seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan umbi-umbian ini diarak dari bendungan bagian timur menuju tepi Waduk Cengklik.

Prosesi adat ini diiringi oleh kesenian tradisional, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan ribuan warga yang antusias mengikuti jalannya kirab.

Setibanya di lokasi utama, gunungan tersebut didoakan oleh para sesepuh desa sebelum akhirnya diperebutkan warga. Tradisi rebutan gunungan diyakini membawa berkah dan keberuntungan bagi siapa pun yang mendapatkannya.

Seorang warga Nova mengaku, ikut berebut gunungan hasil bumi untuk mendapatkan keberkahan dari acara sedekah Waduk Cengklik yang sudah didoakan oleh para tokoh masyarakat.

“Tadi ikut berebut gunungan berdesak desakan. Tadi saya menunggu sejak jam 06.00 WIB sampai siang ini. Saya dapat sayuran nanti di masak di rumah bersama keluarga,” katanya.

Hal senada diungkapkan, Suparmi mengikuti berebut gunungan hasil bumi untuk mendapatkan keberkahan dan hasilnya dimakan bersama teman teman.

“Kebetulan saya bersama teman teman habis olahraga sekalian mampir kesini ikut berebut gunungan, ini saya hanya dapat tahu, sama ketimun. Sulit sekali untuk dapat sayuran,” ujar dia.

Camat Ngemplak, Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengatakan, acara ini merupakan bentuk pelestarian kearifan lokal dan rasa syukur atas keberadaan Waduk Cengklik yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

“Ini merupakan salah satu event melestarikan kearifan lokal di Kecamatan Ngemplak, khususnya di Waduk Cengklik, sebagai wujud syukur kepada Allah melalui kirab budaya dan sedekah waduk,” katanya, Sabtu (5/7/2025).

Ari menyampaikan, pada tahun ini melakukan kirab sebanyak 20 gunungan dari masyarakat, hal ini sebagai simbol kebersamaan warga di Ngemplak Boyolali.

“Kirab itu sebagai simbol bagaimana masyarakat Ngemplak semakin handarbeni, punya rasa memiliki terhadap Waduk Cengklik. Kita tercatat ada 20 lebih gunungan,” ungkap Ari.

Bupati Boyolali, Agus Irawan mengatakan, dengan adanya event tahunan sedekah Waduk Cengklik dapat membawa berkah bagi masyarakat dan masyarakat di sekitar waduk juga dapat mencari keberkahan dari waduk ini.

“Diharapkan warga sekitar waduk dapat mencari keberkahannya. Dan sedekah Waduk Cengklik ini dapat menjadi event tahunan, “jelas Bupati.

Masjid Shiratalmustaqim Boyolali Terima Kunjungan Edukatif dari ITMI

IDPOST.ID – Masjid Agung Shiratalmustaqim di Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Boyolali kedatangan tamu istimewa dari Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) pimpinan Yogi Madsuni pada Sabtu (28/6/2025) malam.

Agenda kunjungan meliputi dialog, pembacaan Al-Quran braille, serta tausiyah dari Ketua Umum ITMI. Yogi Madsuni dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa keterbatasan penglihatan bukan penghalang untuk mempelajari Al-Quran.

“Melalui latihan konsisten, meraba huruf braille menjadi keterampilan yang bisa dikuasai tuna netra untuk memenuhi kewajiban membaca kitab suci,” ujar Yogi.

Ia menggarisbawahi target ITMI meningkatkan melek huruf braille Al-Quran yang saat ini baru mencakup 10-20% populasi disabilitas netra Indonesia (sekitar 20 juta jiwa).

Pembina Masjid, Setiyono, menyatakan apresiasi tinggi atas kehadiran ITMI.

“Kehadiran ITMI memberikan dampak positif secara spiritual dan motivasi bagi jamaah kami,” katanya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan diskusi awal mengenai program sinergi untuk memberdayakan muslim tuna netra di Boyolali.

Protes Pedagang Pasar Kacangan Boyolali: Desak Revisi Perda Retribusi, Sebut Daya Beli Anjlok dan Pasar Terancam Kolaps

IDPOST.ID – Keluhan dan tuntutan membeludak dari pedagang Pasar Kacangan, Boyolali, menyusul memberatnya beban retribusi yang diatur dalam Perda Nomor 16 Tahun 2023.

Perkumpulan Pedagang Pasar Rakyat (P3R) Kacangan secara resmi mendesak Bupati Boyolali merevisi aturan tersebut, menyoroti penurunan daya beli yang kian parah dan ancaman matinya pasar tradisional .

Tuntutan Pengurangan 50% dan Mekanisme Harian

Ketua P3R Kacangan, Kamtar, menegaskan hasil rapat bersama koordinator pedagang, Koppaska, tim keamanan, dan UPT Pasar pada 11 Juni 2025. Mereka menuntut dua perubahan mendesak:

  1. Retribusi kios dipotong 50% dari ketentuan Perda atau dikembalikan ke aturan lama.
  2. Penarikan retribusi harian, bukan bulanan, mengingat ketidakpastian pendapatan pedagang.

“Kondisi pasar tradisional mulai ditinggalkan pembeli. Pedagang hanya sanggup buka saat hari pasaran Pahing karena sepi pembeli,” ujar Kamtar, Jumat (27/6/2025).

Daya Beli Anjlok, Kios Berjatuhan Tutup

Maraknya jual-beli online dan offline di luar pasar disebut sebagai pemicu utama penurunan drastis kunjungan pembeli.

Akibatnya, puluhan kios dan los terpaksa tutup lantaran pedagang tak sanggup menanggung biaya operasional.

“Daya beli menurun drastis. Banyak rekan hanya bertahan pas hari Pahing, selebihnya merana,” tambah Kamtar.

Penataan Zona Dagang dan Subsidi Pemerintah

Selain revisi retribusi, P3R mengusulkan relokasi pedagang berdasarkan zona dan jenis barang untuk meningkatkan kenyamanan pembeli.

Mereka juga meminta pemerintah pusat, provinsi, dan daerah memberikan subsidi khusus sebagai langkah penyelamatan pasar tradisional.

“Tanpa intervensi konkret, Pasar Kacangan akan ditinggalkan penjual dan pembeli,” tegas Kamtar.

Ironi Kebijakan vs Realitas

Tuntutan ini berbanding terbalik dengan upaya Pemkab Boyolali menerapkan sistem e-retribusi di pasar tradisional lain, seperti Pasar Sambi.

Pada 2019, Disdagperin Boyolali bersama Bank Jateng memperkenalkan pembayaran retribusi harian berbasis kartu elektronik yang lebih fleksibel: pedagang hanya bayar Rp1.400/hari saat buka, dan bebas retribusi jika tutup.

Namun, kebijakan progresif ini belum menyentuh Pasar Kacangan, memperlebar kesenjangan penanganan masalah.

Ancaman Kolaps Pasar Tradisional

P3R memperingatkan bahwa pembiaran atas tuntutan ini akan mempercepat kematian Pasar Kacangan. Padahal, pasar tradisional merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat kecil.

“Jika tidak ada revisi Perda dan subsidi, kami hanya menunggu waktu tutup permanen,” pungkas Kamtar.