Sejarah dan Arsitektur Megah Candi Penataran di Blitar

IDPOST.CO.ID – Candi Penataran adalah kompleks candi Hindu terbesar dan paling penting di Jawa Timur, yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Candi ini berdiri megah di lereng bawah Gunung Kelud, sekitar 450 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang sejuk dan nyaman. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar, mudah dijangkau dengan jalan yang baik.

Candi Penataran dibangun sejak abad ke-12 dan terus mengalami pengembangan hingga abad ke-15, mencakup masa kejayaan Kerajaan Kediri dan Majapahit.

Candi ini dikenal juga dengan nama “Palah” yang berarti tempat suci atau pusat, menandakan statusnya sebagai candi negara atau candi pusat kerajaan.

Fungsi dan Makna Candi Penataran

Candi Penataran didirikan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, salah satu dewa utama dalam agama Hindu. Selain itu, candi ini juga berfungsi sebagai tempat upacara keagamaan dan pusat spiritual kerajaan.

Keberadaan candi ini erat kaitannya dengan Gunung Kelud yang merupakan gunung berapi aktif dan berbahaya. Masyarakat dan raja pada masa itu membangun candi ini sebagai bentuk penghormatan dan permohonan perlindungan kepada Dewa Gunung, agar bencana letusan gunung dapat dihindari.

Relief-relief yang menghiasi dinding candi menggambarkan kisah-kisah epik Hindu seperti Ramayana dan Krishnayana (kisah hidup Dewa Krishna). Relief ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai media pendidikan dan penyebaran nilai-nilai moral, kepahlawanan, dan cinta kasih.

Struktur dan Arsitektur

Kompleks Candi Penataran terdiri dari beberapa kelompok bangunan yang tersebar di area yang cukup luas, dikelilingi oleh tembok suci.

Bangunan utama candi terletak di bagian paling belakang dan memiliki tiga teras dengan ketinggian total sekitar 7,10 meter.

Di setiap sisi tangga teras pertama terdapat patung Dwarapala (penjaga pintu) yang berwajah menyeramkan, dikenal oleh masyarakat lokal sebagai “Mbah Bodo”.

Salah satu bangunan penting di kompleks ini adalah Candi Naga, yang dihiasi dengan ukiran naga yang melilit tubuh candi, serta medali-medali relief berbentuk lingkaran yang menggambarkan flora dan fauna.

Arsitektur Candi Penataran memiliki kemiripan dengan pura-pura di Bali, yang menunjukkan kesinambungan budaya Hindu di Indonesia.

Di belakang candi utama terdapat kolam suci kecil yang digunakan untuk ritual pembersihan dan upacara keagamaan.

Sejarah Penemuan dan Penelitian

Candi Penataran pertama kali ditemukan dan didokumentasikan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815, saat ia menjabat sebagai gubernur Inggris di Jawa.

Raffles bersama Dr. Horsfield mengunjungi candi ini dan menulis catatan penting dalam bukunya “History of Java”.

Setelah itu, banyak peneliti dan arkeolog seperti J. Crawfurd, Van Meeteren Brouwer, Junghun, dan Jonathan Rigg melakukan inventarisasi dan penelitian lebih lanjut.

Menurut prasasti yang ditemukan di kompleks candi, pembangunan candi ini dimulai pada tahun 1197 Saka (sekitar 1275 Masehi) pada masa pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kediri.

Candi ini kemudian terus dikembangkan hingga masa Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Raja Jayanegara (1309-1328).

Peran dalam Sejarah Kerajaan Majapahit

Candi Penataran memiliki peran penting dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Candi ini pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Rajasa (pendiri Kerajaan Singasari) dan Raja Kertarajasa Jayawardhana (pendiri Majapahit).

Selain itu, candi ini juga dipercaya sebagai lokasi pengucapan “Sumpah Palapa” oleh Gajah Mada, patih legendaris Majapahit yang berjanji untuk menyatukan Nusantara.

Nilai Budaya dan Pariwisata

Hingga kini, Candi Penataran menjadi salah satu situs warisan budaya yang sangat berharga di Indonesia.

Relief-reliefnya yang kaya akan cerita dan nilai edukatif menjadikan candi ini sebagai sumber pembelajaran sejarah dan budaya Hindu di Jawa Timur.

Candi ini juga menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang menarik banyak pengunjung, baik lokal maupun mancanegara.

Candi Penataran Peninggalan Termegah di Blitar: Dari Kediri ke Majapahit

IDPOST.CO.IDCandi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar menjadi candi terbesar di Jawa Timur.

Kompleks Candi Penataran menjadi peninggalan bersejarah dari Kerajaan Majapahit.

Memiliki kompleks yang besar Candi Penataran didirikan selama beberapa periode waktu yang berbeda.

Selama proses pengembangn candi banyak kontribusi dari beberapa raja dari Kerajaan Kediri dan Majapahit.

Berikut Raja-Raja yang Terlibat dalam Pembangunan Candi Penataran:

Raja Srengga dari Kerajaan Kediri (1194–1222 M):

Masa Pendirian Awal: Pembangunan Candi Penataran diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Srengga. Pada masa ini, candi utama serta beberapa bangunan awal didirikan.

Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit (1350–1389 M):

Pengembangan dan Renovasi: Pembangunan Candi Penataran dilanjutkan dan diperluas selama masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Di masa inilah candi mencapai bentuk dan ukuran seperti yang kita kenal saat ini. Hayam Wuruk sering melakukan kunjungan ke Candi Penataran dan candi ini menjadi salah satu tempat peribadatan penting selama masa kejayaan Majapahit.

Peran dalam Pembangunan:

Raja-Raja

Para raja ini bertindak sebagai patron dan sponsor utama pembangunan candi. Mereka berperan dalam pengalokasian sumber daya serta pengaturan tenaga kerja yang diperlukan untuk pembangunan.

Arsitek dan Pengrajin

Meski nama-nama individu pembuat atau arsitek Candi Penataran tidak tercatat dalam sejarah, jelas bahwa para arsitek, seniman, dan pengrajin pada masa itu memiliki keahlian tinggi dalam seni ukir dan arsitektur, terutama dalam menggambarkan kisah-kisah dari Ramayana dan Mahabharata dalam relief candi.

Candi Penataran tidak hanya dibangun oleh satu raja atau dalam satu periode tertentu, melainkan merupakan hasil dari upaya bersama yang berlangsung selama beberapa abad, mencerminkan kepentingan spiritual dan politik dari beberapa dinasti Jawa yang berkuasa pada saat itu.