Tak Terpilih Jadi Cawapres Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno: Hati Teriris

IDPOST.CO.ID – Kepala Bappilu Nasional Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sandiaga Salahuddin Uno sampaikan kekecewaanya.

Kekecewaan Sandiaga Uno karena ia tidak terpilih menjadi calon wakil presiden (cawapres) Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.

Hal tersebut disampaikanya saat berpidato di Harlah ke-30 sayap organisasi PPP, Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) di Jakarta, Rabu 18 Oktober 2023 malam.

Sandiaga Uno menyebut kalau hatinya teriris tidak terpilih menjadi caweres akan tetapi muka harus tetap tersenyum.

“Walaupun hati teriris. Itu bakal quotes itu. Itu belajar dari Gus Romy (Muhammad Romahurmuziy). Hati teriris, tapi muka harus tersenyum, Insyallah rezeki tidak akan ke mana,” kata Sandi dikutip dari kanal YouTube GMPI.

Menurut Sandiaga Uno, GMPI merupakan kepanjangan dari Ganjar Mahfud Pilihan Indonesia.

“GMPI ini ada singkatannya. Ini bakal jadi quotes, saya belajar dari Gus Romy GMPI (singkatan) Ganjar Mahfud Pilihan Indonesia,” kata dia.

Perlu diketahui, dari Rapimnas V PPP nama Sandiaga Uno diusulkan untuk menjadi cawapres pendamping Ganjar Pranowo.

Sebelum menjadi bergabung ke PPP, Sandiaga adalah kader Partai Gerindra.

Ia bahkan sempat menjadi calon wakil presiden dari Partai Gerindra berpasangan dengan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019.

Selepas Pilpres 2019 Sandiaga masih berseragam Gerindra.

Namun pada April 2023 dia memilih keluar dari partai yang membesarkan namanya itu.

Sandiaga pamit keluar dari partai berlambang kepala garuda itu pada Minggu, 23 April 2023.

Setelah hengkang dari Gerindra, Sandiaga bergabung ke PPP. Ia resmi dikukuhkan sebagai kader PPP dan mendapat kartu tanda anggota (KTA) hingga jaket PPP.

Jawa Timur Paling Produktif Kirim Tokoh Jadi Cawapres

IDPOST.CO.ID – Sejak 2004 silam, sudah ada 14 cawapres yang maju pada Pilpres.

Yang membuat menarik Pilpres 2024 mendatang, dua cawapres berasal dari Jawa Timur.

Kedua tokoh tersebut yakni Muhaimin Iskandar atau Cak Imin asal Kabupaten Jombang dan Mahfud MD berasal dari Kabupaten Sampang.

Selain itu nama-nama tokoh lainya juga sepeti Salahuddin Wahid (Jombang), Hasyim Muzadi (Kabupaten Tuban), Boediono (Blitar) juga sempat menjadi cawapres.

Hanya Boediono yang suksen menduduki jabata wakil presiden waktu itu mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berikut ini daftar Cawapres sejak Pemilu 2004:

Cawapres Pemilu 2004:

Salahuddin Wahid (Jombang)
Hasyim Muzadi (Kabupaten Tuban)
Siswono Yudo Husodo (Kalimantan Timur)
Agum Gumelar (Tasikmalaya)
Muhammad Jusuf Kalla (Watampone)

Cawapres Pemilu 2009:

Prabowo Subianto (Jakarta)
Boediono (Blitar)
Wiranto (Yogyakarta)

Cawapres Pemilu 2014:

Muhammad Jusuf Kalla (Watampone)
Muhammad Hatta Rajasa (Palembang)

Cawapres Pemilu 2019:

Sandiaga Uno (Riau)
Ma’ruf Amin (Tangerang)

Cawapres Pemilu 2024:

Muhaimin Iskandar (Kabupaten Jombang)
Mahfud MD (Kabupaten Sampang)

Dua Nama Putra Terbaik Asal Jatim Berebut Kursi Wakil Presiden di Pilpres 2024

IDPOST.CO.ID – Dua nama putra terbaik asal Jawa Timur merebutkan kursi sebagai wakil presiden di Pemilu 2024 mendatang.

Kedua nama tersebut yakni Muhaimin Iskandar atau Cak Imin asal Kabupaten Jombang sebagai cawapres dari Anies Rasyid Baswedan.

Sedangkan, Mahfud MD berasal dari Kabupaten Sampang sebagai cawapres Ganjar Pranowo.

Perlu diketahui, deklarasi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin digelar di Surabaya.

Deklarasi tersebut digelar di Hotel Majapahit Surabaya sekitar, Sabtu 2 September 2023.

Sedangkan, pengumuman Mahfud MD sebagai cawapres Ganjar Pranowo digelar di Kantor DPP PDIP, Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu 18 Oktober 2023.

Pengumuman Mahfud MD sebagai cawapres Ganjar Pranowo langsung dibacakan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

“Dengan mengucapkan bismillahirahmanirahim maka cawapres yang dipilih oleh PDIP yang akan mendampingi bapak Ganjar Pranowo adalah Bapak Profesor Doktor Mahfud MD,” kata Megawati.

KIM Ngotot Gibran Harus Jadi Cawapres Prabowo Subianto

IDPOST.CO.ID – Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka bolak balik mendapat tawaran dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk jadi Cawapresnya Prabowo Subianto.

KIM mnegklaim kalau datangnya usulan Gibran sebagai Cawapres Prabowo datang dari para relawan setia Jokowi.

Menyikapi adanya usulan tersebut Gibran menangapinya dengan santai dan menampung usulan tersebut.

“Saya nggak gimana-gimana. Silakan. Ada aspirasi dari siapa saja kemarin ya, dari Alap-Alap, Samawi (relawan Solidaritas Ulama Muda Jokowi) silakan ditampung saja,” ungkap Gibran.

Saat ditanya apakah Prabowo juga telah mengomunikasikan rencana itu dengannya, Gibran mengakuinya.

“Ya saya dengan semuanya komunikasi,” ucap Gibran.

Gibran mengakui bahwa Prabowo sudah berkali-kali memintanya untuk menjadi Cawapresnya.

Namun lantaran terganjal aturan, Gibran mengatakan jawaban yang ia berikan kepada Prabowo adalah terkait usianya yang belum memenuhi persyaratan.

“Umur belum cukup,” ucapnya.

Namun saat ditanya lebih lanjut mengenai kesediannya menjadi Cawapres Prabowo jika seandainya gugatan soal persyaratan umum cawapres dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dan umurnya memenuhi persyaratan, begini repons Gibran.

“Ya ditunggu saja,” jawabnya.

Lebih lanjut Gibran mengungkap jika usulan para relawan maupun tawaran Prabowo terkait Cawapres juga sudah disampaikan kepada jajaran pimpinan PDI Perjuangan (PDIP).

“Semua orang kan sudah tahu beliau (Prabowo Subianto) sudah minta berkali-kali dan saya sudah laporkan ke pimpinan, ke Pak Sekjen (Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristyanto), Mbak Puan (Puan Maharani selaku Ketua DPP PDIP), dan lain-lain,” terang Gibran

Yusril Ihza Mahendra, Solusi Tepat sebagai Jalan Tengah untuk Masa Depan Indonesia

IDPOST.CO.ID – Pemilihan Presiden 2024 semakin dekat, dan pertanyaan penting adalah, siapa yang akan menjadi pendamping Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dari Koalisi Indonesia Maju (IM)? Banyak nama muncul, tetapi satu nama yang patut dipertimbangkan adalah Prof. Yusril Ihza Mahendra dari Partai Bulan Bintang (PBB).

Koalisi IM, yang saat ini dipimpin oleh Prabowo Subianto, telah berhasil mengamankan dukungan mayoritas dari berbagai partai politik peserta Pemilu 2024. Dalam koalisi ini, terdiri dari Gerindra, PBB, PAN, Golkar, Gelora, dan Demokrat, dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga berpotensi untuk segera bergabung. Dengan dukungan ini, kekuatan elektoral Prabowo dan infrastruktur mendekati kesempurnaan.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Prabowo saat ini adalah memilih calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Pertanyaan muncul, apakah dari internal koalisi atau di luar partai. Beberapa nama potensial telah mencuat, termasuk Airlangga Hartarto (Golkar), Erick Tohir (PAN), dan Yusril Ihza Mahendra (PBB). Namun, dari semua opsi ini, Yusril Ihza Mahendra muncul sebagai jalan tengah yang menjanjikan.

Yusril Ihza Mahendra, seorang negarawan, intelektual, dan politisi berpengalaman, pernah tiga kali menjabat sebagai menteri strategis di bawah tiga presiden yang berbeda. Kiprahnya sebagai pemimpin partai non-parlemen, PBB, memberikan nuansa keunikan pada dinamika politik Indonesia. Yusril dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Indonesia kontemporer meskipun partainya relatif kecil dibandingkan dengan partai-partai besar.

Selain itu, Yusril adalah sosok yang merepresentasikan daerah-daerah luar Jawa, menambah dimensi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang majemuk. Sebagai seorang politisi Islam moderat, dia diterima oleh berbagai golongan, mencerminkan inklusivitas yang penting dalam politik Indonesia saat ini. Pengalamannya di tingkat internasional juga menambah bobot kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan global.

Dengan memilih Yusril sebagai bakal calon wakil presiden, Koalisi IM dapat membagi posisi Menteri Koordinator (Menko) secara merata kepada Golkar, PAN, dan Demokrat, memudahkan kompromi dalam mengatur posisi menteri-menteri. Keahlian Yusril dalam menengahi konflik internal juga akan membantu mengurangi potensi ketegangan di antara partai-partai koalisi.

Yusril Ihza Mahendra adalah pilihan bijak sebagai bakal calon wakil presiden yang menawarkan keselarasan, pengalaman, dan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. Pilihannya sebagai pasangan Prabowo Subianto dapat memperkuat Koalisi IM dan mempengaruhi masyarakat Indonesia untuk melihatnya sebagai solusi tepat yang menyatukan berbagai kepentingan.

AHY Gak Jadi Cawapres, Pakar Kebijakan Publik Sebut SBY Hanya Fokus Satu Figur

IDPOST.CO.ID – Pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat menyebut pemilihan kandidat Cawapres adalah langkah kritis yang dapat menentukan masa depan sebuah bangsa.

Menurutnya, SBY dan Partai Demokrat dengan tegas memperlihatkan keinginan mereka agar AHY menduduki posisi Cawapres.

“Tuntutan ini menggema begitu kuat, hingga memicu spekulasi tentang masa depan koalisi dengan Nasdem, PKS, dan Partai Ummat,” tuturnya.

Ia menyebut kalau Anies Baswedan dengan kebijaksanaannya berada di tengah pusaran kepentingan beragam partai.

“Di satu sisi, PKS dengan visi jernih dan pendekatan realistis, menunjukkan bahwa politik bukanlah tentang memaksakan kehendak, melainkan tentang mencari solusi terbaik untuk masyarakat,” ucapnya.

Disarankanya Partai Demokrat tidak hanya berpegang teguh pada figur tertentu.

“Prioritas mereka harus tetap pada cita-cita perubahan yang telah direncanakan untuk Indonesia,” tuturnya.

Keterikatan berlebihan pada satu figur dapat mengeser fokus dan tujuan awal partai, yang seharusnya memprioritaskan kepentingan rakyat dan pembangunan bangsa.

“SBY, yang telah berdecak dalam kancah politik selama lebih dari satu dekade, tentu memiliki alasan dan strateginya sendiri,” ucapnya.

“Namun, ketika AHY tidak terpilih sebagai Cawapres, munculnya kekecewaan dan kritik keras terhadap Anies, Surya Paloh, dan Nasdem memperlihatkan betapa pentingnya bagi pemimpin untuk tetap memegang teguh prinsip dan integritas,” lanjutnya.

Sebagai bangsa yang besar lanjutnya, harus menyadari bahwa perubahan dalam pasangan Capres-Cawapres adalah bagian dari dinamika demokrasi.

“Yang lebih penting dari sekadar dinamika ini adalah komitmen bersama untuk perubahan dan kemajuan Indonesia,” tuturnya.

“Semoga koalisi yang ada dapat bersatu, tidak hanya demi kepentingan politik, tetapi juga demi aspirasi rakyat dan masa depan negeri ini,” tutupnya.

Demokrat Sebut Yenny Wahid Tak Pas Jadi Cawapres Anies Baswedan

IDPOST.CO.ID – Partai Demokrat sebut Yenny Wahid tidak pas menjadi calon wakil presiden (cawapres) dampingi Anies Baswedan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Jansen Sitindaon.

Jansen menyebut kalau Yenny Wahid tidak pas berada di Koalisi Perubahan untuk Persatuan.

Meski lanjutnya, ia merupakan salah satu putri Gus Dur merupakan figur yang kompeten di bidangnya.

“Mbak Yenny buat saya bagus. Bahkan lengkap sekali dgn segala atribusi yg melekat dalam diri beliau,” katanya.

“Namun utk posisi Wapres di koalisi perubahan, buat saya beliau tidak pas, tidak cocok,” lanjut Jansen.

Menurutnya, Yenny bisa saja menjadi seorang cawapres tetapi melalui koalisi lainnya, bukan KPP.

“Mungkin cocoknya di koalisi yang lain,” kata Jansen di akun Twitternya.

Jansen menyebut kriteria cawapres yang bakal dipilih oleh Anies dan KPP. Salah satunya adalah sosok yang merepresentasikan perubahan.

“Karena jika koalisi ini menang, sebagaimana namanya perubahan, banyak hal yg ingin kami ubah,” ujarnya.

“Dan idealnya Cawapres perubahan ini memang yg selama ini wajahnya merepresentasikan hal itu,” ungkapnya.

Politikus Demokrat itu meyakini ketepatan dalam memilih cawapres untuk Anies akan memperkuat posisi KPP. Itu menguat bukan hanya pada internal koalisi tetapi juga di mata rakyat.

“Agar koalisi ini juga semakin kuat posisi dan brandingnya di rakyat yang ingin perubahan. Dimana semakin hari semakin besar dan luas dukungannya,” ujar Jansen.

Lebih lanjut Jansen mengatakan sulit untuk memilih figur yang masih bagian dari rezim pemerintahan saat ini lantaran akan menjadi pertanyaan: di mana perubahannya.

“Tentu mereka akan bingung jika koalisi yg katanya mengusung perubahan malah mencalonkan tokoh yang bukan perubahan, apalagi dia tokoh “status quo” atau bagian dari rezim ini,” pungkas Wasekjen Demokrat.

Sederet Nama Cawapres Potensial Versi Gerindra, Cak Imin Tidak Masuk List

IDPOST.CO.ID – Beberapa nama sudah ada yang dipandang pas di pasangkan dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Lantas, siapa cawapres pendamping Prabowo Subianto pada Pemilihan presiden 2024 yang paling pas.

Termasuk salah satunya, Gibran Rakabuming dan Mahfud MD masuk ke pemikiran.

“Kalau terbanyak ada ya saya pikir tidak jauh dari beberapa nama barusan, sebenarnya semuanya ada menjadi cukup kebingungan jawaban yang tersering,” tutur Wakil Ketua Umum Gerindra Rahayu Saraswati.

Saras lalu mengatakan beberapa nama alias, salah satunya Khofifah Indar Parawansa, Airlangga Hartarto, Erick Thohir dan Ridwan Kamil.

“Semua disebutkan ingin itu dari Khofifah ingin itu dari Mahfud Md, ingin itu Airlangga, Erick Thohir, Ridwan Kamil semua tentu menjadi bahan pemikiran,” kata Saras.

Disamping itu, Saras menyebut beberapa tokoh muda seperti Gibran Rakabuming dan Emil Dardak jadi pikiran. Tetapi Saras melihat ulasan sekarang masih aktif.

“Bahkan juga yang muda-muda yakni sekalinya seperti Emil Dardak, Gibran itu juga menjadi pemikiran. Tidak ada buku tidak ada meja itu masih aktif,” katanya.

Berkaitan tidak ada nama Cak Imin yang disebut, Saras menjelaskan beberapa nama itu di luar nama Cak Imin. Karena, menurut Sarah, Prabowodan Cak Imin yang hendak memutuskan.

“Bukan itu juga ya kan dari barusan disebutkan mereka berdua yang mengambil keputusan menjadi selain dari beberapa nama itu ya,” katanya.