Workshop WC-KOEn, Ruang Edukasi dan Simulasi Sanitasi

Laboratorium Lapangan Pusat TTG STBM Bagi Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Surabaya, Idpost.co.id,- Workshop WC-KOEn, sebuah laboratorium lapangan dan pusat edukasi teknologi tepat guna (TTG) untuk sanitasi, kini telah menjadi rujukan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan ilmu tentang dunia sanitasi di Jawa Timur.

Ruang edukasi yang terletak di Perumahan Griya Kebraon Barat IX Blok BH 22, Kota Surabaya ini dibangun sebagai wadah pelatihan praktis penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 Pilar, yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun instansi pemerintah.

Didirikan oleh Dr. Koen Irianto Uripan, S.H., M.M. workshop ini aktif menyelenggarakan simulasi langsung terkait pengelolaan limbah padat dan cair berbasis rumah tangga, dari pembuatan kompos, pengolahan air limbah, hingga septic tank sederhana.

Dibangun sebagai Tempat Belajar serta Ruang Eksperimen

Fungsi utama workshop ini meliputi:

1. Edukasi dan simulasi TTG STBM 5 Pilar

2. Pelatihan teknis bagi tenaga kesehatan dan masyarakat

3. Laboratorium uji coba inovasi sederhana berbasis kebutuhan lokal

Terbuka untuk Semua Kalangan

Workshop WC-KOEn tak hanya ditujukan bagi dinas atau lembaga formal, tapi juga masyarakat umum, aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga perangkat desa.

DR. Koen menegaskan, edukasi sanitasi harus bisa dijangkau siapa saja. Sanitasi itu soal perilaku. Kalau tidak ada tempat belajar, maka perubahan perilaku tidak akan pernah terjadi.

“Saya ingin menyediakan tempat di mana orang bisa belajar sambil melakukan. Bukan hanya dengar teori, tapi langsung praktek bagaimana mengelola limbah rumah tangga,” ungkap alumnus Sekolah Pasca Sarjana Unair Surabaya.

Di workshop WC-KOEn ini dapat melihat dan mencoba langsung pembuatan komposter, grease trap, instalasi filter air selokan (IPLCRT), biofermentor, hingga closet hemat air. Bahkan film dokumenter tentang pembangunan WC dan septic tank di pesisir pun diputar sebagai refleksi atas urgensi sanitasi yang layak.

Dinkes Jatim Jadikan Workshop Sebagai Rujukan

Pelatihan terbaru oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur pada Selasa 27 Mei 2025 lalu menandai pentingnya workshop WC-KOEn sebagai pusat pembelajaran. Dihadiri 24 peserta dari 13 kabupaten/kota di Jawa Timur memperlihatkan bagaimana fasilitas sederhana mampu menjawab kebutuhan besar.

“Kami menggandeng Dr. Koen karena pendekatannya bukan hanya ilmiah, tapi juga membumi dan aplikatif. Ini yang dibutuhkan daerah-daerah untuk mengejar target STBM 5 Pilar,” ujar Ika Puspita Sari, perwakilan dari Dinkes Jatim.

Ika menambahkan, workshop ini sangat efektif sebagai model pelatihan lapangan, terutama bagi tenaga pelaksana program kesehatan lingkungan di daerah. “Harapan kami, workshop seperti ini bisa direplikasi di setiap kabupaten/kota,” tambahnya.

Workshop WC-KOEn telah menjadi contoh nyata bagaimana ruang sederhana mampu mendorong perubahan besar dalam perilaku sanitasi masyarakat. Dengan pelatihan praktis dan edukasi menyeluruh, tempat ini terus menebar inspirasi di tengah masyarakat dan pemerintahan lokal

Dinkes Jatim Gandeng DR Koen Tingkatkan Kapasitas Pelaksana Sanitasi STBM

Surabaya, Idpost .co.id,- Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) STBM 5 Pilar di Tingkat Kabupaten/Kota Se-Jawa Timur Tahun 2025.

Kegiatan dilaksanakan Selasa (27/5/2025) di Workshop WC-KOEn, yang beralamat di Perumahan Griya Kebraon Barat IX Blok BH 22, Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Kota Surabaya.

Pelatihan dipandu langsung oleh Dr. Koen Irianto Uripan, S.H., M.M., seorang tenaga ahli dalam bidang sanitasi lulusan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Kota Surabaya dan didampingi tim edukator dari WC-KOEn.

Peserta workshop adalah para Pelaksana Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 Pilar dari 12 kabupaten/kota se-Jawa Timur, khususnya pemegang program Kesehatan Lingkungan (Kesling).

Peserta dari 12 Daerah Hadir Langsung di Workshop

Dinkes Provinsi Jatim diwakili Ika Puspita Sari mengatakan, 24 orang peserta hadir mengikuti pelatihan. Mereka merupakan angkatan pertama yang mewakili Dinas Kesehatan dan Puskesmas dari 12 wilayah Kabupaten dan kota di Jawa Timur.

12 wilayah Kabupaten/kota meliputi, Kota Surabaya, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, dan 9 Kabupaten meliputi, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Nganjuk, Tuban, Mojokerto, Bangkalan, Lamongan, serta Jombang.

“pelatihan ini adalah upaya konkrit dalam mengawal pencapaian STBM 5 Pilar, yang meliputi: Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga,” ungkap Ika Puspita Sari.

Praktek Langsung TTG: Dari Komposter Hingga IPLCRT

Workshop ini membekali peserta dengan keterampilan teknis, seperti: Pembuatan alat komposter organik, Pengelolaan sampah dapur dan daun kering menjadi kompos

Selain itu di dalam workshop diajarkan juga pemasangan grease trap untuk limbah minyak dapur, Pembuatan biofermentor limbah organik, dan demo closet hemat air serta pemutaran film dokumenter tentang pembangunan septic tank di pesisir laut dan sungai.

Salah satu teknologi utama yang diperkenalkan adalah IPLCRT (Instalasi Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga)

IPLCRT adalah sistem pengolahan limbah cair domestik seperti air cucian, air mandi, dan limbah dapur agar tidak mencemari lingkungan. Alat ini memanfaatkan saringan berlapis dan media biologis yang bisa diaplikasikan di rumah-rumah padat penduduk maupun kawasan tanpa saluran pembuangan yang memadai.

Workshop WC-KOEn, Miniatur Laboratorium Sanitasi Masyarakat

Menurut Dr. Koen, workshop ini tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi juga membangun pengalaman nyata peserta di lapangan.

“Mereka belajar langsung praktek pengelolaan sampah dan limbah cair, agar saat kembali ke daerah, mereka bisa menerapkan tanpa ragu,” tegasnya.

Workshop WC-KOEn dikenal sebagai ruang edukasi terbuka yang menghadirkan simulasi berbagai peralatan dan teknologi sanitasi sederhana, namun efektif dan aplikatif.

Menuju Daerah Mandiri STBM

Dengan bekal dari pelatihan ini, diharapkan peserta bisa menjadi pelopor perubahan perilaku masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan.

Mojokerto Sukses Sabet STBM 5 Pilar, Dr. Koen: Transformasi Sanitasi

Kota Mojokerto, Idpost.co.id,- Kota Mojokerto sukses sabet predikat Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 Pilar. Ini bukan sekadar prestasi administratif, melainkan sebuah transformasi sanitasi nyata yang mendapat pujian dari pakar sanitasi nasional, Dr. Koen Irianto Uripan.

Menanggapi capaian ini, Dr. Koen Irianto memuji langkah nyata Kota Mojokerto yang dianggapnya telah berhasil melakukan transformasi sanitasi secara menyeluruh. Menurutnya, perubahan budaya hidup bersih bukan hal yang mudah, tapi Kota Mojokerto berhasil mewujudkannya.

“Transformasi sanitasi adalah perubahan perilaku massal. Dan itu hanya bisa terjadi jika ada kesungguhan dan kolaborasi dari pemimpin hingga ke akar rumput. Semua telah dicapai dan dibuktikan Pemerintah Kota Mojokerto dan menempatkannya di barisan kota terdepan dalam mewujudkan lingkungan bersih, sehat dan sekaligus berkelanjutan,”  ujar Dr. Koen, pada Sabtu, (26/4/2025).

Capaian per pilar pun mengesankan: 100% untuk Pilar 1 Stop Buang Air Besar Sembarangan, 97,33% pada Pilar 2 Cuci Tangan Pakai Sabun, 96% Pilar 3 dalam Pengelolaan makanan-minuman, 90,67% Pilar 4 di Pengelolaan sampah, dan 78,67% Pilar 5 untuk Pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Sertifikat STBM 5 Pilar resmi diserahkan kepada Walikota Mojokerto Ika Puspitasari oleh Ketua Tim Verifikasi STBM Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraini, M.Kes, pada hari Jumat (25/4/2025), bertempat di Pendopa Sabha Kridatama.

Walikota Mojokerto, yang akrab disapa Ning Ita, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hanya target tercapai, melainkan lahir dari perubahan budaya masyarakat. Ia berharap STBM ini tidak berhenti sebagai proyek. Ini harus menjadi kebiasaan sehari-hari, sekaligus menjadi DNA masyarakat Kota Mojokerto.

Pencapaian Ini bukan hasil kerja dalam satu-dua tahun. Tapi hasil dari konsistensi pembangunan yang berbasis masyarakat dan edukasi yang tak ada henti-hentinya hingga terjadi perubahan perilaku di warga Kota Mojokerto.

“Kami menyampaikan terima kasih atas hasil evaluasi dan rekomendasi dari tim verifikator Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur yang menurutnya akan memperkuat rencana perbaikan berkelanjutan di masa mendatang,” pungkas Ning Ita.

Surabaya Sabet Penghargaan STBM, Dr. Koen Irianto: Bukti Budaya Sehat Telah Mendarah Daging

Surabaya, Idpost.co.id,- Kota Surabaya sukses meraih Sertifikat Penghargaan 5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Sekali lagi Kota Pahlawan mengukir prestasi bidang kesehatan masyarakat.

Penghargaan tersebut adalah sebuah bentuk pengakuan atas keberhasilan Kota Surabaya dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara menyeluruh dengan baik dan benar.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Tim Verifikasi STBM Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraini, kepada Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Dr. Ikhsan, S.Psi., M.M., mewakili Walikota Surabaya, dalam sebuah seremoni resmi yang digelar di kantor Walikota Surabaya, Rabu (16/04/2025).

drg. Sulvy menjelaskan, keputusan ini diambil berdasarkan hasil penilaian tim terhadap 500 warga yang tersebar di 20 kelurahan pada 10 kecamatan. Dimana verifikasi dilaksanakan pada hari Selasa, (14/04/2025), oleh 40 verifikator dengan melibatkan unsur camat, lurah, Satpol PP, Puskesmas, PKK, serta RT/RW setempat.

“Surabaya menunjukkan komitmen luar biasa. Pilar pertama, yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (ODF), telah mencapai 100 persen. Pilar kedua, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) mencapai di angka 99,60 persen,” terang Sulvy.

Sedangkan Pilar ketiga, Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT) mencapai 97,20 persen. Pada pilar keempat, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT), berada di angka 90,80 persen.

Sementara pilar kelima, Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT), meski menjadi tantangan tersendiri, tetap berhasil menembus angka 84,20 persen.

Dr. Koen Irianto Uripan, S.H., M.M., anggota tim verifikasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, memberikan apresiasi khusus terhadap pencapaian ini. Ia menilai bahwa penghargaan tersebut bukan semata hasil program sesaat, tetapi buah pembinaan dan edukasi yang berkelanjutan.

“Saya menyaksikan sendiri di lapangan, khususnya di Kelurahan Dukuh Menanggal dan Gayungan, bagaimana masyarakat sudah terbiasa menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Apa yang telah dilakukan warga bukan sekadar program, tapi sudah menjadi budaya,” ungkap Dr. Koen

Maestro sanitasi ini mengungkapkan jika pendekatan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan pendekatan humanis untuk merubah perilaku, bukan sekadar pembangunan fisik.

Lebih lanjut, Dr. Koen menambahkan bahwa capaian Surabaya adalah contoh nyata keberhasilan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kunci dari keberhasilan Kota Surabaya ini adalah kolaborasi.

“Semua warga Kota Surabaya berperan aktif. Mulai dari pemerintahannya, kader kesehatan, Puskesmas, tokoh masyarakat, dan swasta hingga warga biasa. Budaya hidup sehat sudah mendarah daging di sini,” katanya.

Sementara, Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, sebelumnya mengatakan jika Surabaya memperoleh penghargaan, itu bukanlah tujuan, yang utama program telah berjalan baik dan benar, diikuti perubahan prilaku masyarakat.

“Yang lebih penting dari penghargaan ini adalah bagaimana warga Surabaya benar-benar telah menjalankan pola hidup bersih dan sehat dalam keseharian mereka. Kita ingin budaya ini terus berkelanjutan dan ditingkatkan,” ucap Eri didepan tim verifikasi Dinkes Provinsi Jatim.

Dengan diraihnya penghargaan ini, Kota Surabaya diharapkan dapat menjadi role model nasional dalam penerapan 5 Pilar STBM secara berkelanjutan, sekaligus menginspirasi daerah-daerah lain untuk membangun pola hidup bersih dan sehat.

Dr. Koen Irianto Uripan: Surabaya Role Model Nasional Verifikasi STBM 5 Pilar

Surabaya, Idpost.co.id,- Kota Surabaya menjalani verifikasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 Pilar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan menjadi kota pertama yang diverifikasi di tahun 2025.

Salah satu sosok sentral dalam proses ini adalah Dr. Koen Irianto Uripan SH.MM., anggota tim verifikasi Provinsi Jawa Timur sekaligus Direktur WCKOEn dan Anggota Asosiasi Pengusaha Peduli Air Minum & Sanitasi (APPSANI) yang selama ini dikenal aktif mendorong perubahan perilaku sanitasi di berbagai daerah Indonesia.

Menurut Dr. Koen, proses verifikasi bukan sekadar menilai capaian administratif, melainkan menelusuri sejauh mana masyarakat benar-benar berubah perilaku menuju hidup bersih dan sehat.

“STBM 5 Pilar bukan hanya tentang data di atas kertas. Ini tentang transformasi budaya, bagaimana masyarakat tidak hanya tahu, tapi menjalankan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan. Surabaya sedang menunjukkan itu,” ujar Dr. Koen saat rapat kesiapan verifikasi di Kantor Walikota Surabaya. Senin, (14/04/2025)

Dr. Koen menilai, Surabaya telah layak menjadi role model nasional, karena keberhasilannya mengintegrasikan kekuatan berbagai elemen Pentahelix dan Hexahelix pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, akademisi, dan komunitas. Bahkan, ia menyebut kota Surabaya ini berhasil membangun sistem sosial yang mendukung sanitasi secara inklusif dan terstruktur.

“Di tengah tantangan mobilitas penduduk dan keragaman sosial, Surabaya mampu membangun kolaborasi lintas sektor. Ini bukti bahwa kepemimpinan lokal dan partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan STBM 5 Pilar,” tegasnya.

Dr. Koen berharap langkah Surabaya ini dapat menginspirasi daerah lain untuk mempercepat pencapaian STBM 5 Pilar secara menyeluruh.

“Kita tidak boleh puas hanya dengan ODF. Harus ada kesinambungan hingga pengelolaan limbah dan sampah rumah tangga. Surabaya sudah di jalur yang tepat,” pungkasnya.

Sementara itu dalam pemaparannya, Walikota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa keberhasilan kota ini tidak terlepas dari peran lebih dari 27 ribu Kader Surabaya Hebat (KSH), yang telah dilatih dan bersertifikat. Mereka menjadi garda terdepan dalam edukasi dan pengawasan sanitasi di lingkungan masing-masing.

“Kami terus mendorong kader-kader ini agar menjadi mitra aktif pemerintah. Mereka yang menjaga kota ini tetap sehat,” ungkap Walikota Surabaya.

Sedangkan Tim verifikasi dipimpin oleh drg. Sulfi Dwi Angraini, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jatim menambahkan, jika penilaian mencakup verifikasi dokumen, survei lapangan, dan wawancara kepada kepala keluarga.

“Kita ingin melihat langsung bagaimana perilaku hidup bersih benar-benar diterapkan masyarakat. Ini penting untuk mewujudkan sanitasi berkelanjutan,” katanya.

Verifikasi lapangan dijadwalkan pada Selasa, 15 April 2025, dengan dua kelurahan dari setiap kecamatan yang masing-masing menyertakan 25 kepala keluarga sebagai sampel. Hasilnya akan dibahas dalam rapat pleno pada 16 April.

Wilayah sampling mencakup lima kawasan Surabaya meliputi, Surabaya Barat di Kecamatan Lakarsantri dan Sambikerep, Surabaya Timur di Kecamatan Sukolilo, Tambaksari, dan Rungkut, Surabaya Utara di Kecamatan Kenjeran, Surabaya Selatan di Kecamatan Jambangan, Wonokromo, dan Gayungan, serta Surabaya Pusat di Kecamatan Simokerto.

WC-KOEn Didukung SATO Perkuat Sanitasi di Desa Sie, Bima, NTB

Monta, NTB, Idpost.co.id,- Desa Sie, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, NTB, merupakan salah satu daerah yang masih menghadapi masalah sanitasi. Banyak warga belum memahami arti pentingnya sanitasi yang memadai, baik dan layak.

Untuk menjawab tantangan ini, WC-KOEn, sebuah perusahaan yang bergerak dalam sanitasi, didukung SATO, produsen kloset asal Jepang, melaksanakan program sosial sebagai bagian pengabdian ke masyarakat.

Dr. Koen Irianto Uripan, S.H., M.M., pemilik sekaligus Direktur WC-KOEn, mengatakan bahwa kehadirannya di Desa Sie dalam rangka mendukung peningkatan kesehatan masyarakat. Ia menekankan bahwa sanitasi yang layak adalah salah satu pilar utama dalam kesehatan.

“Dengan jamban sehat, warga Desa Sie berkontribusi langsung meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kami ingin menghapus stigma bahwa sanitasi layak itu mahal. Kegiatan ini menunjukkan bahwa fasilitas sanitasi yang aman, kokoh, dan terjangkau bisa diwujudkan,” ujar Dr. Koen pada Kamis (21/11/2024).

Dalam kegiatan ini, WC-KOEn dan SATO membangun dua unit jamban sehat bagi warga Desa Sie, sekaligus memberikan satu unit kloset merk SATO kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bima sebagai bentuk dukungan terhadap perbaikan fasilitas sanitasi di daerah tersebut.

Selain itu, mereka juga mengadakan sosialisasi mengenai pentingnya sanitasi yang layak dan pola hidup bersih dan sehat, yang sejalan dengan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Sekretaris Dinas Kesehatan Bima, Nurul Wahyuti, menyampaikan apresiasinya atas kerja sama ini. Menurutnya, program ini sangat mendukung upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan sanitasi masyarakat.

“Kami sangat terbantu dengan inisiatif WC-KOEn dan SATO dalam memperbaiki fasilitas sanitasi di Desa Sie. Sanitasi yang baik merupakan kunci dalam menciptakan masyarakat yang sehat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sie, Aman Munir, juga menyampaikan terima kasih kepada WC-KOEn dan SATO. Ia berharap bantuan ini dapat meningkatkan kualitas hidup warganya.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan jamban sehat ini. Harapannya, semakin banyak keluarga di Desa Sie yang memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak, sehingga kesehatan masyarakat juga meningkat,” ungkapnya.

Farid, koordinator pelaksana kegiatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, turut menyatakan rasa bangganya atas dedikasi tinggi WC-KOEn dalam membantu warga Desa Sie.

“Pengabdian masyarakat ini menunjukkan betapa pentingnya kerja sama lintas daerah. WC-KOEn yang berbasis di Surabaya dan SATO dari Jepang telah membuktikan bahwa melalui gotong royong, kita bisa bersama-sama meningkatkan kualitas sanitasi, tidak hanya di Desa Sie, tetapi juga di seluruh Kabupaten Bima,” ujarnya.

Dengan adanya program pengabdian masyarakat ini, diharapkan Desa Sie dapat terus meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan masyarakatnya, terutama pasca deklarasi Open Defecation Free (ODF).

Kegiatan ini juga diharapkan bisa menjadi awal dari program-program serupa yang akan dilaksanakan di wilayah-wilayah lain di Kabupaten Bima maupun daerah lain di Indonesia, sebagai bagian dari upaya bersama menciptakan masyarakat yang lebih sehat.

Pemkab Sidoarjo Peringati HKN ke-60: Gerak Bersama, Sehat Bersama

Sidoarjo, Idpost.co.id,- Pemkab Sidoarjo menggelar upacara memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 dengan tema “Gerak Bersama, Sehat Bersama”, di Alun-alun Sidoarjo pada hari Selasa, 19 November 2024.

PJ Plt. Bupati Sidoarjo, Muhammad Isa Anshori bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus membacakan sambutan peringatan Hari Kesehatan Nasional dari Menteri Kesehatan RI, Budi G. Sadikin.

Dalam sambutan tersebut, pemerintah mengajak masyarakat untuk terus menjaga kesehatan mulai dari diri sendiri hingga lingkungan sekitar dan menekankan pentingnya transformasi kesehatan sebagai landasan penting menuju Indonesia Emas 2045.

“Mari kita bangun budaya sehat bersama melalui sinergi antara Pemerintah Pusat, Daerah, dan seluruh elemen masyarakat, pilar transformasi kesehatan dapat kita tegakkan menuju perubahan yanglebih baik,” ucapnya.

Pemerintah menyoroti 3 program prioritas nasional, yang diharapkan mempercepat peningkatan kesehatan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, meliputi pemeriksaan kesehatan gratis, penurunan kasus TB dan pembangunan rumah sakit lengkap berkualitas di daerah terpencil.

Dalam peringatan HKN ke-60 ini, Pemkab Sidoarjo memberikan penghargaan Mitra Sidoarjo Sehat, Sejahtera, dan Inspiratif (Misi Sejati) kepada para tokoh yang berkontribusi dalam bidang kesehatan.

DR. Koen Irianto Uripan, seorang ahli bidang sanitasi dan perubahan perilaku, menjadi salah satu penerima penghargaan atas dedikasinya dalam mewujudkan Sidoarjo sebagai wilayah Open Defecation Free (ODF) pada tahun 2024.

Kabid Kesmas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, dr. Inensa Khoirul Harap mengapresiasi dedikasi Dr. Koen dalam menggerakkan program-program kesehatan di wilayah Sidoarjo.

“Kontribusi DR Koen sangat luar biasa dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sanitasi. Capaian Sidoarjo menjadi ODF adalah bukti kerja keras dan dedikasinya,” ujar Inensa.

Lebih lanjut, dr. Inensa juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tenaga kesehatan dalam mencapai keberhasilan program-program kesehatan.

“Sinergitas antara berbagai pihak sangat diperlukan untuk memastikan bahwa program-program kesehatan telah berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dr Inensa juga berharap program-program kesehatan yang telah berjalan semakin memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sehingga dapat memperkuat pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Dr. Koen bersyukur dan merasa terhormat mendapatkan penghargaan Misi Sejati dari Pemkab Sidoarjo. Ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang selama ini telah membantunya.

“Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga bagi semua pihak yang telah bekerjasama mencapai tujuan kesehatan di Kabupaten Sidoarjo,” ucap DR. Koen.

Momentum HKN ke-60 ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kesehatan, dengan meningkatkan sanitasi, dan menerapkan PHBS menuju Indonesia emas tahun 2045.

Dinkes Surabaya Luncurkan Program Grease Trap di Sumur Welut Bersama DR Koen

Surabaya, Idpost.co.id,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama DR Koen Irianto Uripan, meluncurkan program percontohan grease trap atau penyaring lemak dan minyak sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan dengan mengurangi limbah minyak dapur dan lemak yang bisa berpotensi mencemari air dan merusak ekosistem.

Kolaborasi ini bertujuan memperkenalkan cara baru dalam mengelola sampah rumah tangga sebagai bagian program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pada khususnya pilar pengelolaan limbah cair rumah tangga yang berfokus pada prinsip 3R: reduce, reuse, dan recycle. 

Program Inovasi pertama yang diterapkan di Kota Surabaya dan di Indonesia ini diuji coba kepada 6 orang warga di Kelurahan Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri, pada Minggu (27/10/2024). Sebagai langkah awal komitmen Dinkes dalam menciptakan lingkungan bersih dimulai dari pengolahan limbah cair rumah tangga.

Dalam tahap awal, grease trap dipasang di tiga lokasi berbeda di setiap rumah, yaitu di bawah sink dapur, di luar rumah sebelum saluran got, dan di bak kontrol. Tujuannya untuk memastikan bahwa berbagai jenis rumah dapat memiliki akses ke alat ini dan memanfaatkan fungsi grease trap sesuai kebutuhan. 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Kabidkesmas Dinkes) kota Surabaya, dr. Kartika Sri Rejeki, menekankan arti pentingnya grease trap dalam menjaga kualitas air dan lingkungan yang bersih. Pemasangan grease trap yang bervariasi dilakukan agar berfungsi secara optimal di lingkungan yang berbeda-beda. 

“Melalui program ini, kami mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengelola limbah cair rumah tangga dengan tepat. Grease trap membantu meminimalisasi pencemaran lingkungan, terutama saluran air,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika limbah minyak dan lemak langsung dibuang ke dalam saluran air lama-lama akan menumpuk yang dapat menghambat saluran serta menyebabkan pencemaran. Dan akhirnya bisa berpotensi merusak kualitas air tanah. 

Sedangkan DR Koen menyampaikan, jika penggunaan grease trap ini diharapkan menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Selain itu, program ini akan menjadi acuan bagi kota lainnya untuk mengadopsi langkah serupa dalam mengelola limbah rumah tangga.

“Kami ingin grease trap ini bisa diterima dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Harapannya, para penerima bantuan dapat menjaga dan merawat alat tersebut dengan baik agar bisa menjadi contoh bagi warga lainnya,” ungkap pakar sanitasi lulusan S3 Unair.

DR Koen yang hadir dalam peluncuran program ini mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Sebagai penggerak sanitasi dan kesehatan lingkungan, dirinya juga menekankan arti pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam mencegah pencemaran lingkungan sejak dari sumbernya. 

“Grease trap ini adalah solusi sederhana namun berdampak besar. Dengan alat ini, kita memulai langkah kecil untuk bersama-sama menciptakan sebuah perubahan besar dalam menjaga lingkungan bersih dan mencegah pencemaran air,” ujar DR Koen kembali.

Ia juga berharap dengan kolaborasi ini dapat menjadi program percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia khususnya dalam menerapkan metode pengelolaan limbah rumah tangga cair guna menjaga keberlanjutan ekosistem dan kualitas air yang bersih.

Melalui bantuan grease trap ini, Dinkes Surabaya bersama DR Koen berharap bisa terus mendorong kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan turut serta dalam mencegah pencemaran air yang lebih luas.