Stimulan Jamban Sehat dari Dr. Koen Bagi Warga Sekardangan Sidoarjo

IDPOST.CO.ID – Stimulan jamban sehat dari Dr. Koen Irianto Uripan menjadi langkah awal dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Dusun Plipir, RT 10 RW 03, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo.

DR. Koen memberikan bantuan berupa enam kloset kepada delapan kepala keluarga yang memenuhi kriteria tertentu, yaitu keluarga tidak mampu, keluarga dengan anggota Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), dan ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK).

“Pemberian bantuan ini merupakan bagian dari program besar yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, terutama setelah Kabupaten Sidoarjo dinyatakan sebagai daerah Open Defecation Free (ODF) pada Mei tahun 2024,” ujarnya.

Sang maestro sanitasi juga mengatakan bahwa dengan adanya fasilitas jamban sehat, diharapkan masyarakat dapat menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta mengurangi risiko penyebaran penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk.

Dr. Koen Irianto Uripan sebagai inisiator program ini, mengungkapkan harapannya agar bantuan yang diberikan dapat benar-benar bermanfaat bagi penerima.

“Kami berkomitmen untuk terus memberikan dukungan bagi masyarakat, terutama yang berada dalam kondisi rentan. Kesehatan adalah hak setiap individu, dan kami ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam menikmati hak tersebut,” tegasnya.

Sementara, Lurah Sekardangan, Mukarto menyampaikan rasa terima kasih sekaligus apresiasinya terhadap inisiatif DR Koen.

“Program stimulan jamban sehat ini sangat penting dalam mendukung kesehatan masyarakat. Kami berharap, langkah ini dapat diikuti oleh inisiatif-inisiatif lainnya untuk terus meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Mukarto.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sekardangan, dr. Halimah Salim Ahmad Basalamah Lashraf, menekankan pentingnya sanitasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Sanitasi yang baik adalah kunci utama dalam mencegah penyakit. Dengan adanya jamban sehat, masyarakat dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak higienis,” jelas dr. Halimah.

DR. Koen Irianto Uripan Yakin Angka Stunting Turun dan Sidoarjo 2023 ODF

SIDOARJO, IDPOST.CO.ID,- Stunting masih menjadi problematika yang perlu mendapat penanganan yang serius dan komprehensif di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Peran serta Pemerintah dan stakeholder terkait serta didukung oleh masyarakat menjadi kunci utama dalam menyelesaikan hal tersebut.

DR. Koen Irianto Uripan S.H, M.M, tenaga ahli bidang perubahan perilaku dan bidang sanitasi mengatakan problem stunting tidak hanya masalah gizi, tapi juga perilaku masyarakat yang sampai saat ini belum menerapkan pola hidup bersih dan sehat, salah satunya masih buang air besar sembarangan (BABS).

“Sistem sanitasi yang baik menjadi awal dari langkah penanganan stunting, salah satunya adalah memiliki jamban sehat ditiap rumah. Dengan tidak melakukan BABS maka secara otomatis mengurangi penyebaran bakteri dan virus penyebab timbulnya stunting,” ujar DR. Koen saat menghadiri undangan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya (Polkesbaya) pada Rabu (04/10/2023).

Ketua APPSANI Jawa Timur ini, hadir di acara Pengabmas Polkesbaya di Balai Desa Kepadangan, Tulangan, dalam rangka peluncuran bantuan pembuatan 100 jamban sehat bagi masyarakat Sidoarjo dan mendukung percepatan menuju Desa ODF atau desa yang bebas dari perilaku BABS.

“Saya meyakini Kabupaten Sidoarjo ini akan segera ODF atas kolaborasi semua pihak serta pemberdayaan masyarakat dan mudah-mudahan di tahun 2023 ini Sidoarjo bisa ODF,” harapan DR. Koen

Doktor jebolan sekolah Pasca Sarjana Unair saat ini juga dipercaya membantu Pemerintah Desa Kepadangan,Tulangan, Sidoarjo dalam rangka untuk merubah perilaku masyarakat tidak lagi ‘ngeseng ngawor’ (Ngewor) atau BABS melalui program pembangunan jamban sehat.

Dalam acara tersebut DR. Koen Irianto Uripan hadir bersama Kadinkes Sidoarjo Dr. Fenny Apridawati, Direktur Polkesbaya, Luthfi Rusyadi, Camat Tulangan, Suprayitno, Kepala Desa Kepadangan, Syamsul Anam dengan perangkat bersama kader Kesehatan, Kepala Puskesmas Tulangan serta tokoh masyarakat.

“Semua upaya-upaya yang dilakukan ini bertujuan guna membantu memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat sekaligus mendukung program percepatan Desa Kepadangan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo ODF,” pungkasnya.

Peletakan batu pertama dalam pembangunan 100 jamban sehat oleh Kadinkes Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati dan Direktur Polkesbaya, Luthfi Rusyadi sebagai wujud di mulai pembangunan 100 jamban sehat di Kecamatan Tulangan.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan 100 jamban sehat oleh Kadinkes Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati dan Direktur Polkesbaya, Luthfi Rusyadi sebagai wujud di mulai pembangunan 100 jamban sehat di Kecamatan Tulangan

Direktur Polkesbaya, Luthfi Rusyadi, dalam kegiatan peluncuran bantuan 100 jamban sehat menyampaikan kegiatan Pengabmas Penugasan adalah salah satu program kerja Polkesbaya membantu masyarakat Sidoarjo dibidang kesehatan.

“Kami akan membantu dan mengawasi dalam menuntaskan masalah kesehatan masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Dua diantaranya adalah masalah Stunting dan ODF. Dan hari ini kami memulai dengan memberi bantuan 100 jamban yang disebar dibeberapa desa khususnya di Kecamatan Tulangan,” tutur Luthfi Rusyadi.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati mengucapkan terima kasih kepada Poltekkes Surabaya yang telah berkenan menerjunkan mahasiswa-mahasiswa untuk bisa mendampingi masyarakat Kabupaten Sidoarjo terutama di locus-locus stunting supaya berprilaku hidup bersih dan sehat.

“Mewakili Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saya ucapkan terima kasih pada Polkesbaya dan terkait dengan ODF hari ini adalah langkah strategis dan pas dimulai dengan 100 jamban yang Insya Allah akan selesai di akhir bulan ini. Mari bersama wujudkan tidak lagi desa ODF tetapi Kecamatan ODF,” kata Dr. Fenny Apridawati.

Sementara Camat Tulangan, Suprayitno, saat dikonfirmasi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Direktur Polkesbaya dan kegiatan hari ini adalah sebagai bentuk kolaborasi pemerintah dan akademisi dalam rangka menurunkan angka stunting melalui sektor ODF.

“Harapan kami semoga dengan bantuan ini bisa menurunkan angka stunting khususnya di wilayah Kecamatan Tulangan dan segera bisa ODF,” ungkap Camat Tulangan kepada jurnalis Idpost.

Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan secara simbolis pemotongan tumpeng sekaligus peletakan batu pertama dalam pembangunan jamban sehat oleh Kadinkes Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati dan Direktur Polkesbaya, Luthfi Rusyadi sebagai wujud di mulai pembangunan 100 jamban sehat di Kecamatan Tulangan.

Kiprah DR. Koen 2 Hari Merakyat di Desa Prunggahan Wetan Mendukung Tuban ODF

TUBAN, IDPOST.CO.ID,- Sebagai penggiat bidang sanitasi, kiprah dan kepedulian DR. Koen Irianto Uripan, Direktur yang sekaligus owner WC KOEn mampu memberikan arti serta manfaat bagi masyarakat di setiap wilayah yang menjadi sasaran kegiatannya.

DR. Koen selalu mendukung kegiatan serta program-program baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Kota dalam upaya guna membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama dalam bidang sanitasi terkhusus program jambanisasi.

Seperti yang dilakukannya selama 2 hari sejak tanggal 3-4 Juli 2023 baru-baru ini, dimana ia sangat mendukung program percepatan Open Defication Free (ODF) atau wilayah yang bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban.

Sang Doktor dan tim WC KOEn blusukan ke Dusun Taragan, Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban untuk memberikan bantuan pembangunan 4 jamban sehat sekaligus sosialisasi terkait “Persiapan Pembangunan dan Edukasi Jamban Sehat Dalam Rangka Percepatan Tuban ODF”.

Doktor jebolan Sekolah Pasca Sarjana Unair mengutarakan dalam sosialisasinya kepada masyarakat Desa Prunggahan Wetan bahwa indikator terciptanya lingkungan yang sehat dan kehidupan yang baik yaitu menerapkan pola hidup bersih dan sehat pada tiap-tiap individu dalam keluarga serta masyarakat.

“Indikatornya dimana setiap individu dalam komunitas tidak melakukan buang air besar sembarangan dan memiliki sistem sanitasi yang baik, terutama jamban sehat berseptic tank yang kedap dengan sistem filtrasi yang baik dan tahan guncangan sehingga tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari akibat rembesan tinja,” ujarnya.

sosialisasi DR. Koen terkait "Persiapan Pembangunan dan Edukasi Jamban Sehat Dalam Rangka Percepatan Tuban ODF".
sosialisasi DR. Koen terkait “Persiapan Pembangunan dan Edukasi Jamban Sehat Dalam Rangka Percepatan Tuban ODF”.

Disampaikan pula oleh DR. Koen bahwa pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh dalam proses penyebaran penyakit berbasis lingkungan, seperti penyakit cacingan, kolera, demam tifoid, diare, tifus, polio serta akibat lainnya antara lain stunting.

“Untuk membangun tatanan masyarakat mau dan sadar mengikuti pola hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu dilakukan berbagai upaya yang serius dari pimpinan daerah dan stakeholder terkait guna merubah perilaku masyarakat itu sendiri,” ungkap Koen.pada jurnalis Idpost pada Jum’at (07/07/2023)

Koen menambahkan tidak mudah namun juga tidak sulit jika semua pihak responsif turut berperan dan bekerjasama antar lini, mulai dari RT, RW, kader desa, Kepala Desa, Lurah, Camat, Puskesmas, Dinas Kesehatan dalam menuntaskan permasalahan BABS menuju “100% ODF Kabupaten Tuban”.

“Pada intinya dukungan kami kepada warga selaras dengan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban dalam rangka percepatan ODF, dan sesuai dengan Target Nasional Pembangunan Sanitasi dan Air Minum serta Surat Edaran Gubernur Jawa Timur dalam upaya percepatan ODF pada tahun 2024,” ucapnya.

Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tuban mengucapkan terima kasih atas bantuan DR. Koen Irianto Uripan bersama Tim WC KOEn yang telah mendukung dan membantu pembangunan jamban sehat pada warga Desa Prunggahan Wetan.

Sebelumnya, Kepala Desa Prunggahan Wetan, Hari Winarko, S.H bersama jajaran dan warga juga turut mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuan serta informasi yang baik bagi warga Desa Prunggahan Wetan untuk menuju Desa ODF.

Teguh

DR. Koen Peringatkan Bahaya Sanitasi Buruk Pada Masyarakat

SIDOARJO, IDPOST CO.ID,- Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan terjadinya banyak penyakit yang mudah menyerang tubuh dan hal tersebut masih cenderung diabaikan sehingga mengakibatkan turunnya tingkat kesehatan dan tingkat produktivitas masyarakat.

DR. Koen Irianto Uripan, pakar sanitasi dan perubahan perilaku mengatakan tantangan sanitasi adalah mengakhiri buang air besar sembarangan, meningkatkan penyampaian layanan, dan menutup putaran dari akses fasilitas sanitasi ke pengelolaan air limbah yang berkelanjutan.

“Dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dimana pada tiap rumah tangga meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah awal yang tepat untuk mencegah kontaminasi segala sesuatu yang kotor dan berbahaya,” tutur Koen.

Sang Doktor lulusan Sekolah Pasca Sarjana Unair ini juga menyampaikan virus, bakteri, dan parasit tumbuh subur di tempat dengan sanitasi yang buruk sehingga menyebabkan penyakit atau komplikasi serius bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera.

Penjelasan DR. Koen bagaimana jamban sehat yang baik dan sesuai dengan Kesehatan
Penjelasan DR. Koen bagaimana jamban sehat yang baik dan sesuai dengan Kesehatan

“Setidaknya ada enam penyakit akibat dari sanitasi buruk yang berdampak turunnya kualitas kesehatan masyarakat antara lain, penyakit kolera, Demam Tifoid, diare, tifus, polio, dan penyakit cacingan,” ungkapnya pada jurnalis Idpost setelah kegiatan Cegah Stunting, Senin (26/6/2023).

Menurutnya, buruknya sanitasi juga turut menghambat tingkat pertumbuhan ekonomi, hal tersebut dikarenakan kematian dini, biaya perawatan kesehatan, kehilangan waktu dan produktivitas mencari pengobatan, dan kehilangan waktu serta produktivitas mencari akses ke fasilitas sanitasi.

“Sanitasi yang baik menyebabkan beban penyakit lebih rendah, penurunan stunting, meningkatnya kualitas hidup, menjadikan lingkungan hidup lebih sehat dimana pada akhirnya memperoleh keuntungan ekonomi dan sosial kepada masyarakat secara lebih luas sekaligus menciptakan sumber daya manusia yang unggul,” ucapnya

Dikatakannya, akses sanitasi yang layak digunakan harus memenuhi syarat kesehatan yaitu, tidak mencemari air, tidak mencemari tanah pemukiman, tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan, bebas dari serangga, aman digunakan pemakainya, mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan pada pemakainya, tidak menimbulkan pemandangan yang kurang sopan.

“Memelihara kondisi sanitasi lingkungan yang baik sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan suatu kondisi yang baik dalam dunia kesehatan dengan terus berupaya dan bergerak memotivasi untuk perubahan perilaku sosial yang dinamis di masyarakat,” pungkasnya.

Teguh

DR. Koen Irianto Uripan : Jamban Sehat Kunci Awal Pengendalian Stunting

SIDOARJO, IDPOST.CO.ID,- Permasalahan stunting di wilayah Kabupaten Sidoarjo telah menjadi salah satu target utama yang harus segera diselesaikan dikarenakan membawa dampak bagi kesehatan anak. Ditambah lagi angka stunting saat ini mengalami kenaikan dari 14,8 menjadi 16,1 persen.

Sebagai upaya dalam pencegahan stunting Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Puskesmas Waru melaksanakan pelayanan gizi serta melakukan kegiatan “Cegah Stunting” dengan mengundang DR. Koen Irianto Uripan, Motivator, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi dan Perubahan Perilaku .

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin (26/06/2023) mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai di Balai Desa Kepuh Kiriman, Jl. Kolonel Sugiono No.29, Kundi, Kepuh Kiriman, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Waru, Nawari, Kepala Desa Kepuh Kiriman Sarengat dan Ketua BPD H. Miftakhul Ulum, Kepala Puskesmas Waru, dr. Mukarini, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi, DR Koen Irianto Uripan, Bidan Desa Kepuh Kiriman, Suryati Ningsih bersama Kader Kesehatan serta perwakilan warga Kepuh Kiriman.

Stunting dapat dicegah dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), salah satunya menggunakan jamban sehat supaya tidak buang air besar sembarangan (BABS). Sehingga dampaknya pada kualitas kesehatan masyarakat akan meningkat.

DR. Koen Irianto Uripan, master sanitasi dan perubahan perilaku, dalam kegiatan Cegah Stunting menyampaikan, membiasakan diri berprilaku PHBS dengan menggunakan jamban sehat akan memiliki dampak cukup besar bagi kita. Karena antara sanitasi yang buruk dan stunting saling berkaitan.

Camat Waru, Nawari, Kepala Desa Kepuh Kiriman, Sarengat dan Ketua BPD H. Miftakhul Ulum, Kepala Puskesmas Waru, dr. Mukarini, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi, DR Koen Irianto Uripan, Bidan Desa Kepuh Kiriman, Suryati Ningsih bersama Kader Kesehatan
Camat Waru, Nawari, Kepala Desa Kepuh Kiriman, Sarengat dan Ketua BPD H. Miftakhul Ulum, Kepala Puskesmas Waru, dr. Mukarini, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi, DR Koen Irianto Uripan, Bidan Desa Kepuh Kiriman, Suryati Ningsih bersama Kader Kesehatan

“Pada saat setiap keluarga telah melakukan budaya sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi. Dimana salah satu caranya stop BABS dengan beralih memakai jamban sehat sebagai progres langkah awal menekan stunting,” tutur DR. Koen pada warga Kepuh Kiriman.

Dijelaskan pula, membangun jamban sehat harus didukung oleh pembuatan septic tank yang baik dan benar karena jika asal-asalan dampaknya bisa menimbulkan pencemaran lingkungan yaitu kontaminasi rembesan air tinja yang dapat mempengaruhi sumber air.

Perlu diketahui bahwa sanitasi yang buruk menimbulkan masalah gangguan kesehatan terutama pencernaan pada anak, dan saat sering terkena masalah pencernaan, sistem imunnya menjadi lemah. Sehingga si kecil sering sakit-sakitan, kurang gizi, dan pada akhirnya meningkatkan risiko stunting.

Camat Waru, Nawari, menyampaikan bahwa permasalahan sanitasi ini menjadi tanggung jawab bersama baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Kecamatan, Pemerintah Desa (Pemdes), Puskesmas dan stakeholder yang terkait untuk bisa mencapai taraf kesehatan masyarakat yang baik di wilayah Kecamatan Waru.

“Pada intinya kami dari jajaran Kecamatan Waru, Pemerintah Desa Kepuh Kiriman dan Puskesmas Waru berniat untuk terus mengurangi hingga menghilangkan masalah kesehatan di masyarakat. Terkait jambanisasi ini kami akan terus berupaya karena keterbatasan masyarakat yang kurang mampu,” ungkap Camat Waru.

Nawari juga menambahkan bahwa perlunya intervensi dari Pemkab, Pemdes, puskesmas dan Kecamatan dalam rangka mewujudkan wilayah Waru Open Defecation Free (ODF) atau wilayah dimana penduduknya bebas dari perilaku buang air besar sembarangan (BABS) sebagai langkah awal pengendalian stunting.

“Untuk mewujudkan Desa ODF kami akan berkolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di wilayah Kecamatan Waru seperti Puskesmas untuk mengajak Pemerintah Desa mengalokasikan sebagian anggaran untuk membangun jamban sehat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Teguh

DR. Koen Irianto Uripan Mendukung Pemkab Tuban 2024 ODF 

TUBAN, IDPOST.CO.ID,- Pembangunan dalam bidang sanitasi dan air minum telah menjadi target nasional dan masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024. Dimana salah satu targetnya adalah tercapainya Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sebesar 0 persen.

Kabupaten Tuban menjadi salah satu yang tingkat pencapaian ODF belum maksimal di Jawa Timur, dimana saat ini baru tercapai 58,84 persen. Dari 328 Desa baru tercapai 193 Desa, artinya masih ada 135 Desa yang belum ODF dan hal itu cukup berdampak pada tingkat kesehatan masyarakat.

Dapat diketahui bahwa Indikator Kinerja Utama Bupati Tuban salah satunya adalah Pencapaian Desa ODF atau Desa Bebas dari prilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sehingga itu diperlukan dukungan dari stakeholder terkait untuk mencapai target tahun 2024 Tuban ODF.

Dalam upaya mendukung dan mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) bersama Baznaz Kabupaten Tuban menggelar kegiatan “Serah Terima Bantuan Pembuatan Jamban Dhuafa Baznas Kabupaten Tuban”.

Acara tersebut dilaksanakan di Aula Aster Dinkes Jl. Brawijaya No.3, Kebonsari, Tuban, yang dihadiri Kepala Dinkes P2KB Tuban, dr. Bambang Priyo Utomo, Ketua Baznas Tuban Ir. Agus Suryanto, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi dan Perubahan Perilaku, DR. Koen Irianto Uripan, serta masyarakat penerima manfaat.

Kegiatan tersebut adalah realisasi bantuan jamban dari Baznas bagi 93 rumah keluarga kurang mampu, yang merupakan kelanjutan dari pelaksanaan stimulan jamban di tahun 2022, dimana pada saat itu baru tercapai 75 persen karena terkendala dengan biaya pembangunan.

Kepala Dinkes P2KB Tuban, dr. Bambang Priyo Utomo, mengucapkan terima kasih kepada Baznas Kabupaten Tuban yang telah menyetujui Proposal Cegah Stunting Dengan Benahi Sanitasi (Canting Besi) kepada BAZNAS guna membantu warga miskin dalam pembangunan jamban.

Kepala Dinkes P2KB Tuban, dr. Bambang Priyo Utomo, Ketua Baznas Tuban Ir. Agus Suryanto, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi dan Perubahan Perilaku, DR. Koen Irianto Uripan, serta masyarakat penerima manfaat dalam acara Serah Terima Bantuan Pembuatan Jamban Dhuafa Baznas Kabupaten Tuban
Kepala Dinkes P2KB Tuban, dr. Bambang Priyo Utomo, Ketua Baznas Tuban Ir. Agus Suryanto, Tenaga Ahli Bidang Sanitasi dan Perubahan Perilaku, DR. Koen Irianto Uripan, serta masyarakat penerima manfaat dalam acara Serah Terima Bantuan Pembuatan Jamban Dhuafa Baznas Kabupaten Tuban

“Kabupaten Tuban sangat rendah di dalam pencapaian target Desa ODF atau Bebas dari perilaku BABS. Dimana pencapaiannya saat ini sangat rendah sehingga untuk mencapai target tahun 2024 Tuban ODF diperlukan terus dukungan dari stakeholder terkait dan salah satunya dari Baznas,” tuturnya.

Percepatan dan pencapaian target sanitasi aman dan layak serta upaya percepatan 0 persen perilaku BABS di Jawa Timur tahun 2024 telah dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Timur sebagai upaya dan wujud serta harapan di tahun 2024 Jawa Timur sudah Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan.

DR. Koen Irianto Uripan, motivator, pakar dunia sanitasi serta perubahan perilaku pada kesempatan tersebut mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, memberikan penyuluhan dan informasi terkait dengan “Jamban Sehat” dalam rangka menyadarkan masyarakat pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Kehadirannya diharapkan mampu memberikan motivasi kepada masyarakat arti pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat dengan tidak melakukan BABS, sekaligus dapat memberi influence dan contoh nyata arti pentingnya memiliki sebuah jamban sehat disetiap rumah tangga guna menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.

“Kita tidak mudah merubah mindset orang lain yang belum terbiasa dengan pola hidup bersih dan sehat meskipun dengan bukti sekalipun, tapi dengan banyak mendengar, melihat serta mau merasakan kesulitannya, maka akan menjadi luar biasa ketika orang lain menyetujui serta menerima gagasan kita demi kebaikannya,” ungkap Doktor jebolan Sekolah Pasca Sarjana Unair Surabaya, Sabtu, (24/06/2023).

Dalam kegiatan tersebut DR. Koen Irianto Uripan, juga memberikan informasi tentang bagaimana jamban sehat dibuat dan juga spesifikasi pembuatannya agar keberadaan dari jamban berserta septic tank tidak akan mempengaruhi lingkungan sekitar terutama sumber air.

“Dengan teknologi tepat guna strauss pile yang diterapkan dalam pembuatan jamban bisa menjawab semua keluhan dan alasan masyarakat akan rumah kecil dan sempit, rumah yang berdiri di bantaran dan diatas sungai serta biaya mahal sehingga warga tidak dapat memiliki jamban sehat,” ucapnya.

Dalam kegiatan penyuluhan kali ini DR. Koen Irianto Uripan, kembali berulah lagi dengan memberi bantuan 4 jamban sehat kepada warga Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Hal tersebut dilakukan guna memberikan motivasi dan influence arti pentingnya memiliki jamban sehat dan sekaligus membantu Kabupaten Tuban sukses mencapai ODF di tahun 2024.

Teguh

Kiprah DR. Koen Melayani Masyarakat Dalam Program Jambanisasi

SIDOARJO, IDPOST.CO.ID,- Tidak pernah ada henti-hentinya DR. Koen Irianto Uripan melayani dan membantu serta menyadarkan masyarakat untuk melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS) terutama dalam penyediaan jamban sehat agar tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Pada Jum’at, (16/06/2023) lulusan sekolah Pasca Sarjana Unair ini menyasar wilayah Desa Kureksari, Waru, Sidoarjo. Di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Desa Kureksari, Koen langsung disambut Sanitarian, Perangkat Desa dan 18 Warga serta Kader Kesehatan Lingkungan.

Seluruh yang hadir mendapatkan banyak informasi yang detil tentang arti pentingnya sanitasi dalam upaya untuk pengendalian berbagai macam penyakit, salah satunya adalah stunting yang saat ini menjadi perhatian di seluruh wilayah Indonesia saat ini.

DR. Koen menyampaikan jika sanitasi yang buruk bisa menimbulkan penyakit infeksi pada balita serta diare dan kecacingan yang dapat mengganggu pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu lama dapat mengakibatkan stunting.

“Anak yang hidup dan tinggal lama di lingkungan terkontaminasi dengan sanitasi yang tidak layak, memiliki risiko 40% akan mengalami stunting,” ujarnya.

Ditambahkan pula, bahwa rumah tangga yang telah memiliki sanitasi baik akan menunjang dan berkontribusi positif dalam mengurangi angka kejadian stunting dan stunting berat pada pada anak balita.

“Oleh karenanya dengan kondisi tersebut, jelas bahwa penyediaan sanitasi yang layak dan aman menjadi sangat penting dalam percepatan penurunan stunting pada balita di Indonesia,” ungkapnya.

Penggiat sanitasi terutama dalam bidang perjambanan ini sangat getol sekali membangun mindset dan motivasi kepada masyarakat dengan golongan apapun. Hal itu karena PHBS menjadi kebutuhan penting dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat jasmani dan rohani.

Selain itu, Koen menerangkan dengan detil tentang bagaimana jamban sehat dan bagaimana membuatnya serta memberikan kontribusi kepada warga Desa Kureksari berupa subsidi sebesar Rp. 350 ribu per Kepala Keluarga (KK) sekaligus memberikan program cicilan sebanyak 3x bagi warga yang berkenan untuk membuat dan memiliki jamban sehat.

Sanitarian Puskemas Waru, Sidoarjo, Yuyun mengucapkan terima kasih dan merasa sangat terbantu dengan pelayanan DR. Koen yang memberikan penyuluhan dan informasi terkait arti pentingnya memiliki jamban sehat dalam rangka membangun kesadaran masyarakat untuk menjalani PHBS dengan tidak BABS.

” Informasi dan program yang diberikan DR. Koen sangat baik dan masyarakat antusias untuk memiliki jamban sehat agar tidak BABS sehingga kebersihan lingkungan akan selalu terjaga dan stunting akan lewat,” jelasnya.

Teguh

Monitoring dan Evaluasi Pasca Sukses Kota Surabaya 100% ODF

SURABAYA, IDPOST.CO.ID,-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Sanitarian se-Kota Surabaya melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pasca Kota Surabaya sukses 100 % Open Defecation Free (ODF) atau wilayah dimana para penduduknya bebas dari perilaku buang air besar sembarangan (BABS).

Dengan pelaksanaan Monev ini diharapkan Sanitarian dan Kesehatan Lingkungan dapat terus memaksimalkan strategi dalam mengembangakan potensi dalam merubah perilaku masyarakat untuk terpicu memiliki rasa malu dan rasa jijik jika BABS sehingga merasa sangat membutuhkan jamban sehat sebagai sarana dalam Buang Air Besar.

Ketika kita dapat merubah perilaku masyarakat supaya hidup bersih dan sehat dengan tidak melakukan BABS, secara otomatis memicu terbentuknya prilaku sehat sehingga akan tercipta lingkungan yang sehat serta saniter dan pada akhirnya akan mengantarkan Kota Surabaya menuju Kota Sehat di tahun 2023.

Kegiatan Monev diselenggarakan pada hari Sabtu, (10/06/2023) mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, yang berlokasi di Resto Joss Gandos, Jl. Raya Jemursari No.15, Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya, dan dihadiri 65 orang Sanitarian dan petugas Kesehatan Lingkungan Puskesmas, Dinkes, Baznas dan WC-KOEN.

Dalam keberhasilan Kota Surabaya bebas 100 % ODF atau bebas BABS, tidak dapat dipungkiri telah melibatkan seluruh elemen masyarakat dan stakeholder terkait serta pihak-pihak yang mendukung pelaksanaan program tersebut, dimana salah satunya adalah DR. Koen Irianto Uripan Direktur dan owner WC KOEN.

Nurifa Handayani dari Dinkes Kota Surabaya mengucapkan terima kasih pada DR. Koen yang selama ini telah bersinergi membantu Dinkes dalam menuntaskan permasalahan sanitasi di seluruh wilayah Kota Surabaya melalui program jambanisasi hingga meraih sertifikat dan predikat ODF.

DR. Koen Irianto Uripan saat memberikan materi perubahan perilaku dalam Monitoring dan Evaluasi Pasca Sukses Kota Surabaya 100% ODF
DR. Koen Irianto Uripan saat memberikan materi perubahan perilaku dalam Monitoring dan Evaluasi Pasca Sukses Kota Surabaya 100% ODF

“Saya mengucapkan terima kasih atas nama pribadi dan kedinasan pada DR. Koen yang telah berhasil membantu kami menjadikan “Sukses Kota Surabaya 100 % ODF” dan ini patut dirayakan dengan kebanggaan,” tutur Nurifa

Ditambahkan pula melalui tangan dingin, semangat, ide kreatif, inovatif, kerja cerdas yang penuh keluwesan membuat Doktor jebolan Pasca Sarjana Unair Surabaya, bisa dan mampu untuk memecahkan kebuntuan ketika banyak masyarakat menolak dan sulit menerima ajakan hidup bersih dan sehat. Melalui komunikasi langsung dan sosialisasi mereka akhirnya menyetujui.

DR. Koen mengucapkan selamat kepada Pemerintah Kota Surabaya yang telah berhasil mendapatkan sertifikat serta sekaligus predikat Kota ODF 100 %. Hal ini tentunya akan menjadi contoh serta mempengaruhi wilayah lain untuk menjadikan masyarakat daerahnya berprilaku hidup bersih dan sehat dengan tidak BABS.

“Sanitarian Kota Surabaya sebagai pejuang dan pahlawan atas keberhasilan Pemerintah Kota Surabaya meraih sertifikat Kota ODF 100 %. Mereka yang berhadapan langsung dengan masyarakat untuk selalu memberi informasi serta masukan agar warga Kota Surabaya tidak BABS,” ungkapnya.

Disampaikan pula faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan dan perilaku. Perubahan perilaku sehat ini sangatlah sulit apabila masyarakat sendiri tak mempunyai keinginan untuk merubahnya.

“Perubahan perilaku dimulai dari diri sendiri dan dimulai sejak dini, sehingga menjadi terbiasa untuk melakukan kegiatan yang lebih besar dalam rangka menuju pola hidup sehat. Jika tercipta lingkungan yang sehat maka akan tercipta kehidupan yang sehat, jika tercipta kehidupan yang sehat maka tercipta badan yang kuat, dan di dalam badan yang kuat akan tercipta pemikiran yang sehat juga,” Pungkasnya

Teguh