Viral Konflik Yai Mim vs Sahara di Malang, Netizen Ungkap 8 Fakta yang Bikin Publik Berpaling

IDPOST.ID – Konflik antara KH Muhammad Imam Muslimin atau Yai Mim, dosen senior UIN Malang, dengan tetangganya, Sahara, terus menjadi sorotan.

Kini, seorang netizen dengan akun TikTok @zramlni_ membagikan delapan fakta yang disebutkan dapat mengungkap duduk persoalan sebenarnya.

Fakta-fakta tersebut dibagikan dalam kolom komentar unggahan IDPOST tentang nasib Yai Mim yang harus meninggalkan rumahnya sendiri di kawasan Karangbesuki, Kota Malang, usai mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk jalan umum.

Berikut 8 fakta yang diungkap netizen berdasarkan penelusuran @zramlni_:

1. Asal Usul Kepemilikan Tanah

    Yai Mim membeli tanah di Kavling Depag III, Malang, pada 2008 dan mulai membangun rumah pada 2022. Sebagian tanah diwakafkannya secara lisan untuk jalan umum. Sahara dan suaminya hanya mengontrak rumah di sebelahnya.

    2. Awal Mula Konflik

    Awalnya hubungan baik. Masalah muncul ketika mobil-mobil rental Sahara diparkir semrawut hingga mengganggu. Saat dibicarakan ke Sahara dan Ketua RT, justru Sahara memancing emosi Yai Mim, merekamnya, dan mengedit video seolah menjadi korban untuk diunggah di TikTok.

    3. Dukungan Netizen Berbalik

    Awalnya netizen mendukung Sahara. Setelah fakta terungkap, netizen menyerbu akun TikTok Sahara dengan komentar pedas. Yai Mim justru sudah terlanjut dihujat dan dilaporkan ke kampusnya agar diberhentikan sebagai dosen.

    Yai Mim Keturunan Sunan Ampel, Hafidz Qur’an dan Eks Dosen UIN Malang, Terusir Usai Wakafkan Tanah

    IDPOST.ID – Nasib malang seorang bernama KH Muhammad Imam Muslimin, yang akrab disapa Yai Mim. Sang ulama, yang merupakan keturunan ke-6 dari Sunan Ampel dan Sunan Bonang, justru harus terusir dari rumahnya sendiri di kawasan Karangbesuki, Kota Malang.

    Pengusiran ini terjadi setelah ia dengan ikhlas mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk dijadikan jalan umum.

    Konflik yang awalnya hanya sengketa tapal batas, dalam sebuah video yang viral, terlihat ia menghadapi tekanan dari tetangganya, yang berujung pada keputusannya untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

    “Saya dan istri tidak ada sedikitpun keinginan menarik tanah yang sudah kami waqafkan untuk jalan umum. Silahkan semua orang boleh menggunakannya untuk lewat dengan nyaman tanpa gangguan,” tulis Yai Mim dalam klarifikasinya di Instagram, @mohammad_imam_muslimin.

    Namun, niat baiknya itu berbalas pahit. Alih-alih dihargai, ia justru merasa diteror dan dipersulit, hingga akhirnya memilih mengungsi untuk menghindari konflik yang semakin memanas.

    Netizen Geram: Mana Perlindungan untuk Ulama?

    Melihat nasib yang menimpa Yai Mim, netizen ramai-ramai menyuarakan kemarahan dan dukungan mereka. Banyak yang tidak percaya bahwa seorang ulama dan dosen senior UIN Malang, yang masih memiliki darah biru Walisongo, diperlakukan sedemikian rupa.

    “Sedih lihat kondisi Yai Mim. Niat baik berwakaf malah dibalas seperti ini. Semoga ada keadilan untuk beliau. 😔 #JusticeForYaiMim,” tulis akun @Ahmad_Santoso92.

    “Ini harus diselesaikan secara hukum yang jelas. Jangan sampai yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar. #SelesaikanSengketaYaiMim,” desak akun @Fajar_Justice.

    Konflik Yai Mim dan Tetangga Sahara, Netizen Curiga Ada Bisnis Mobil Bodong di Malang

    IDPOST.ID – Konflik antara KH Muhammad Imam Muslimin atau Yai Mim eks dosen UIN Malang dengan tetangganya, Sahara, di Karangbesuki, Kota Malang, ternyata menyisakan banyak tanda tanya.

    Dalam sebuah video klarifikasi, Yai Mim secara halus menyindir kegiatan tetangganya yang diduga terkait dengan bisnis rental mobil berizin abu-abu.

    “Misalnya ada kiriman mobil dari Priok ke Kangean, suratnya bodong. Periksa mobil-mobilnya pak polisi,” ujar Yai Mim dalam video tersebut, dengan nada yang terkesan biasa namun penuh makna. Sindiran ini langsung ditangkap cerdas oleh netizen.

    Akun TikTok jahe rempah suratmo berkomentar pedas, “jangan sekali-kali memberi tempat suku dengan logat ini. akan jadi masalah,” yang langsung disambut ratusan like dan reply yang setuju. Komentar ini mengarah pada identitas suku dari tetangga Yai Mim yang dianggap sebagai akar masalah.

    Netizen evi dengan antusias menanggapi sindiran Yai Mim, “pak mim menyindir ituuu🤣🤣🤣🤣🤣🤣”. Sementara lhaaaa menulis, “kyk nya bapak itu nyinggung klw bapak baju biru itu penjualan mobil ilegal.”

    Sindiran Yai Mim ini dinilai sebagai upaya membongkar masalah yang lebih besar di balik sengketa tapal batas yang tampak sederhana.

    Netizen menduga, ada persengkokolan secara sistematis yang dialami Yai Mim berkaitan dengan keberaniannya menyoroti praktik-praktik tidak jelas di lingkungan tempat tinggalnya.

    Kini, netizen semakin yakin bahwa Yai Mim adalah korban dari sebuah skema yang lebih rumit.

    Viral Klarifikasi Yai MIM Eks Dosen UIN Malang, Netizen: Salut, Tetap Sabar Meski Diframing Jelek

    IDPOST.ID – Klarifikasi yang dibeberkan oleh Imam Muslimin atau Yai MIM eks dosen UIN Malang mengenai konflik dengan tetangganya ternyata berhasil mengubah opini publik.

    Alih-alih mencela, warganet justru ramai-ramai memberikan dukungan kepada dosen nonaktif UIN Malang tersebut setelah memahami bahwa akar masalahnya adalah isu penyalahgunaan tanah wakaf.

    Komentar-komentar mendukung membanjiri kolom unggahan Instagram Yai MIM. Banyak netizen yang menyoroti kesalahan fundamental dalam pemanfaatan lahan yang sudah berstatus wakaf.

    “Oalah… ternyata tetangganya yg playing victim toh,” tulis akun @donnyoktora, yang mewakili perasaan banyak orang yang merasa telah tertipu oleh narasi awal dari video yang hanya menampilkan momen emosional.

    Akun @just.lely juga berkomentar, “Tanah wakaf utk fasum malah mau d pke pribadi.. tetangga nya gmn ini 🥲🥲🥲.” Komentar ini menyentuh esensi masalah, yaitu penyimpangan dari tujuan wakaf untuk fasilitas umum menjadi kepentingan komersial pribadi.

    Warganet lain, @ahmad_ks_mbo, memberikan solusi praktis: “Ukur ulang saja ke BPN. Tunjukan nanti Sertifikat dan Surat Wakafnya. Wakaf yg tidak digunakan sebagaimana ikrar wakaf maka batal.” Saran ini mengacu pada aturan hukum yang jelas tentang keabsahan wakaf.

    Beberapa komponen lain menilai Yai MIM justru menjadi korban “framing” atau pembingkaian berita yang tidak utuh.

    Akun @pak.firdaus menulis, “Dari awal aku udah komen tetangganya itu salah, tp karna yai MIM ada adegan jatuh² & orang² pada fokusnya kesitu bukan ke akar masalahnya.”

    Profil Yai MIM, Eks Dosen UIN Malang yang Diusir dari Rumahnya Sendiri Ternyata Keturunan Sunan Ampel

    IDPOST.ID – Siapa sebenarnya KH Muhammad Imam Muslimin atau Yai MIM, ulama yang menjadi sorotan setelah diusir dari rumahnya sendiri pasca viral dengan dengan tetangganya yaitu Sahara?

    Ternyata, pria kelahiran Blitar, 11 Maret 1966 ini adalah figur multidimensi yang kiprahnya tidak main-main di dunia pendidikan dan keagamaan.

    Yai MIM merupakan dosen senior di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Tidak hanya aktif di kampus, dia juga dikenal sebagai pengasuh dua pondok pesantren, yaitu PP. Anshofa yang didirikannya pada 2007 dan PP. Bayt Al Qur’an Nurus Shafa (BaiQu NUsa) yang berdiri tahun 2021. Dedikasinya dalam mencetak generasi Qur’ani tidak diragukan lagi.

    Darah ulama memang mengalir deras dalam dirinya. Yai MIM menyatakan diri sebagai keturunan ke-6 dari dua Wali Songo terkemuka, Sunan Ampel dan Sunan Bonang.

    Jejak keilmuannya dibangun sejak dini. Pendidikan formalnya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Qodiriyah dan berlanjut ke Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bakung serta MA Al Kamal Kunir Wonodadi.

    Di usia remaja, ia telah tekun mendalami ilmu agama di Pesantren Terpadu Al Kamal di bawah asuhan ulama besar KH. A. Tohir Wiajaya. Di pesantren inilah ia mendalami Fiqh, Bahasa Arab, Tafsir, dan Tasawuf.

    Perjalanan akademis formalnya berlanjut ke IAIN Sunan Ampel jurusan Bahasa Arab hingga meraih gelar doktor dari UIN Malang pada 2012.

    Insiden di Lomba Patrol Kampung Ndesan Malang: Seorang Ulama Ngaku Diusir Petugas Keamanan

    IDPOST.ID – Lomba patrol yang digelar di Kampung Ndesan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada Sabtu (23/8/2025) diwarnai insiden.

    Seorang pria bernama Imam Muslimin (59), yang dikenal sebagai Yai MIM, mengaku diusir oleh petugas keamanan dari lokasi acara.

    Yai MIM, yang berdomisili di RT 07/RW 05, Kelurahan Karangbesuki, menyatakan bahwa ia datang ke lomba tersebut dengan tujuan mulia, yaitu untuk membagikan dana hadiah sebesar Rp 1 juta kepada seluruh peserta.

    Niat ini dikonfirmasi oleh istrinya, Inez (Rosida Vignesvari), yang mendampinginya.

    “Saya membawa dana khusus untuk kami bagikan keseluruhan peserta lomba masing-masing orang 1 juta,” ujar Inez.

    Namun, upaya Yai MIM untuk masuk ke area lomba terhalang oleh petugas keamanan. Meskipun Yai MIM telah menjelaskan identitasnya sebagai warga setempat dan pecinta budaya, serta niatnya untuk memberikan bantuan, petugas tetap tidak mengizinkan ia masuk.

    “Sudah saya jelaskan bahwa saya mencintai kegiatan lomba seperti ini dan saya warga Karangbesuki, namun petugas keamanan lomba tetap saja tidak mau mendengar,” kata Yai MIM.

    Ulama Keturunan Sunan Ampel Diduga Diusir dari Lomba Patrol Malang karena Penampilan

    IDPOST.ID – Seorang ulama dan pemerhati budaya, Yai MIM, mengaku diusir dari lokasi lomba patrol di Kampung Ndesan, Kota Malang, pada Sabtu (23/8/2025).

    Pria yang memiliki nama asli Imam Muslimin (59) ini menduga pengusiran tersebut terjadi karena penampilannya yang mengenakan jubah dan sorban, yang merupakan identitas keulamaannya.

    Yai MIM, yang juga mengklaim sebagai keturunan ke-6 Sunan Ampel dan Sunan Bonang, menyatakan kekecewaannya atas insiden tersebut.

    Ia datang ke lokasi lomba dengan niat baik, yaitu untuk membagikan dana sebesar Rp 1 juta kepada setiap peserta lomba.

    Niat mulia ini disampaikan langsung oleh istrinya, Inez (Rosida Vignesvari), yang selalu mendampingi Yai MIM.

    “Sudah saya jelaskan bahwa saya mencintai kegiatan lomba seperti ini dan saya warga Karangbesuki, namun petugas keamanan lomba tetap saja tidak mau mendengar,” kata Yai MIM, yang berdomisili di RT 07/RW 05, Kelurahan Karangbesuki.

    Menurut Yai MIM, pakaian yang ia kenakan adalah bagian dari tradisi dan budaya yang seharusnya dihargai, bukan menjadi alasan untuk diskriminasi.

    “Saya hadir dengan pakaian yang merupakan identitas dan tradisi keulamaan, justru diduga menjadi alasan saya tidak diterima di lokasi lomba di Kampung Ndesan tersebut,” ujarnya.

    Insiden ini menimbulkan pertanyaan mengenai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya dan identitas di tengah masyarakat.

    Ulama Pecinta Budaya Dilarang Masuk Lomba Patrol di Malang, Yai MIM: Saya Datang Membawa Niat Baik

    IDPOST.ID – Seorang warga Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, mengaku diusir oleh petugas keamanan dari sebuah lokasi lomba patrol di Kampung Ndesan, Malang.

    Ia mengklaim sebagai seorang ulama yang juga pemerhati dan pecinta budaya. Dan karena kecintaannya ia ingin membagikan dana hadiah untuk masyarakat.

    Pria yang mengenalkan diri sebagai Yai MIM itu mengatakan, nama lengkapnya berdasarkan KTP adalah Imam Muslimin (59).

    Ia pernah belajar tentang pendidikan Bahasa Arab dan budaya Islam di Al Azhar Cairo Mesir selama 3 tahun secara bolak-balik atau tadribiyat.

    Selain itu, ia masih keturunan cucu mbah Sunan Ampel Surabaya yang ke-6 daei jalur ayah. Dari jalur ibunya keturunan Sunan Bonang (Sayyid Makhtoum Ibrahim).

    Orangtuanya bernama Mardhi atau Muhammad bin Karyantono (Sayyid Muhammad Amali) bin Mentheg (Sayyid Ahmad Musa Hambali) bin Mbah Bendo (Muhammad Abi Yusuf) bin Hasan bin Sayyid Rahmatillah (Sunan Ampel) Surabaya.

    Dia bersikukuh memberitahukan kepada petugas bahwa dirinya pecinta budaya lokal dan warga sekitar. Namun, dia tetap tidak diizinkan masuk ke area lomba di Kampung Ndesan.

    “Sudah saya jelaskan bahwa saya mencintai kegiatan lomba seperti ini dan saya warga Karangbesuki, namun petugas keamanan lomba tetap saja tidak mau mendengar,” kata Yai MIM, Sabtu (23/8/2025).

    Yai MIM yang berdomisili di RT 07/RW 05, Kelurahan Karangbesuki itu mengatakan, kehadirannya untuk membagikan dana kepada seluruh peserta lomba. Masing-masing peserta, menurut dia, akan menerima Rp 1 juta. Demikian, disampaikan oleh Inez, istri Yai MIM yang selalu setia mendampingi dimanapun Yai MIM berada.

    “Saya membawa dana khusus untuk kami bagikan keseluruhan peserta lomba masing-masing orang 1 juta,” ujar Inez yang dibenarkan oleh YAI MIM dengan anggukan kepala.

    Yai MIM dan juga Inez (Rosida Vignesvari) menduga pengusiran tersebut terjadi karena penampilannya yang mengenakan pakaian seperti ulama, berupa jubah, sorban lengkap dengan imamahnya.

    Padahal, menurutnya, pakaian tersebut merupakan bagian dari tradisi dan budaya yang seharusnya dihargai.

    “Saya hadir dengan pakaian yang merupakan identitas dan tradisi keulamaan, justru diduga menjadi alasan saya tidak diterima di lokasi lomba di Kampung Ndesan tersebut,” ujarnya.