Amalan Puasa Hari Pertama: Memulai Ibadah dengan Penuh Keberkahan

IDPOST.CO.IDPuasa adalah salah satu ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Baik itu puasa wajib seperti Ramadan maupun puasa sunnah, hari pertama puasa memiliki makna istimewa.

Pada hari pertama, kita memasuki fase baru dalam beribadah, di mana niat, kesungguhan, dan persiapan batin sangat diperlukan untuk menjalani puasa dengan penuh keikhlasan.

Artikel ini akan membahas berbagai amalan yang dapat dilakukan di hari pertama puasa agar ibadah semakin bermakna dan penuh keberkahan.

Keutamaan Memulai Puasa dengan Niat yang Ikhlas

Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum memulai puasa adalah meluruskan niat. Dalam Islam, niat adalah fondasi dari setiap ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Di hari pertama puasa, penting bagi kita untuk memperbaiki niat agar puasa tidak hanya menjadi rutinitas menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Niat puasa wajib Ramadan diucapkan pada malam sebelum berpuasa atau sebelum waktu Subuh. Niat ini tidak harus dilafalkan secara keras, tetapi cukup di dalam hati dengan kesadaran penuh bahwa kita melaksanakan puasa karena Allah.

  1. Mengawali Hari dengan Sahur

Sahur adalah salah satu sunnah yang sangat dianjurkan saat berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Meskipun sahur hanyalah makan di waktu dini hari, aktivitas ini mengandung banyak hikmah.

Selain memberikan energi fisik untuk menjalani puasa seharian, sahur juga menjadi momen spiritual di mana kita bangun di waktu yang penuh berkah untuk beribadah.

Sahur sebaiknya dilakukan mendekati waktu Subuh agar tubuh lebih siap menghadapi tantangan puasa.

  1. Memperbanyak Zikir dan Doa

Hari pertama puasa adalah momen yang sangat baik untuk memperbanyak zikir dan doa.

Dengan berzikir, hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih fokus pada ibadah. Beberapa zikir yang dianjurkan selama berpuasa adalah:

  • Membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah).
  • Membaca tasbih (Subhanallah).
  • Membaca tahmid (Alhamdulillah).
  • Membaca takbir (Allahu Akbar).

Selain itu, berdoalah dengan penuh keyakinan, terutama di waktu-waktu mustajab seperti saat menjelang berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Tiga doa yang tidak akan tertolak: doa orang yang berpuasa hingga dia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.”_ (HR. Tirmidzi)

Gunakan waktu di hari pertama puasa untuk memohon ampunan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalani ibadah selama bulan penuh rahmat ini.

  1. Membaca Al-Qur’an

Puasa adalah momen yang tepat untuk memperbanyak membaca dan merenungi ayat-ayat Al-Qur’an.

Ramadan, misalnya, dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga membaca kitab suci ini menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan.

Di hari pertama puasa, mulailah dengan membaca Al-Qur’an secara perlahan-lahan dan konsisten.

Jika memungkinkan, cobalah untuk mengatur target khatam Al-Qur’an selama bulan Ramadan, misalnya dengan membaca satu juz setiap hari.

Jika tidak mampu, cukup membaca beberapa ayat dengan penuh penghayatan dan pemahaman. Lebih baik membaca sedikit tetapi dipahami daripada membaca banyak tanpa merenungi maknanya.

  1. Bersedekah dan Berbuat Kebaikan

Hari pertama puasa adalah waktu yang tepat untuk memulai kebiasaan baik, seperti bersedekah. Sedekah tidak harus berupa uang atau harta, tetapi juga dapat berupa memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”_ (HR. Tirmidzi)

Selain itu, lakukan kebaikan-kebaikan kecil seperti membantu orang lain, menjaga kebersihan, atau memberikan senyuman tulus kepada orang di sekitar kita. Semua ini akan menambah pahala dan membuat puasa menjadi lebih bermakna.

  1. Menjaga Lisan dan Perbuatan

Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dapat merusak pahala puasa.

Di hari pertama, kita harus mulai membiasakan diri untuk menjaga lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat, seperti berbohong, bergosip, atau berbicara kasar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”_ (HR. Bukhari)

Selain menjaga lisan, hindari juga perbuatan-perbuatan buruk seperti marah, iri hati, atau menyakiti orang lain. Fokuslah pada hal-hal positif yang dapat meningkatkan kualitas ibadah kita.

  1. Berbuka dengan Sunnah

Saat waktu berbuka tiba, jangan lupa untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Beliau menganjurkan berbuka dengan sesuatu yang manis seperti kurma atau air putih. Rasulullah SAW bersabda:

“Manusia akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah berbuka, jangan lupa untuk melanjutkan ibadah dengan menunaikan salat Maghrib, Isya, dan Tarawih jika itu di bulan Ramadan. Di hari pertama, ini adalah momen yang tepat untuk memulai kebiasaan baik yang akan terus dilakukan sepanjang bulan.

Hari pertama puasa adalah langkah awal menuju perjalanan spiritual yang penuh makna. Dengan melaksanakan amalan-amalan seperti sahur, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan, kita dapat memaksimalkan pahala dan keberkahan di hari pertama puasa.

Jadikan hari pertama sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga setiap langkah yang kita ambil dalam menjalani puasa senantiasa diberkahi dan diridhai oleh-Nya. Aamiin.

Mandi Wajib dan Puasa Ramadan, Keseimbangan Antara Kesucian dan Ketaatan

IDPOST.CO.ID – Melaksanakan puasa Ramadan 2024 membutuhkan keadaan suci, seperti tidak dalam keadaan haid. Namun, bagaimana jika seseorang belum mandi wajib tapi tetap puasa? Apakah puasanya sah?

Mandi wajib, atau mandi besar, merupakan cara bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari hadas besar, seperti hubungan suami istri, haid, nifas, atau melahirkan.

Mandi wajib diwajibkan bagi seseorang yang dalam keadaan junub. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 43.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (QS. An Nisa: 43).

Berdasarkan bunyi surat An Nisa tersebut, maka mandi besar diwajibkan kepada seseorang yang dalam keadaan junub. Keadaan junub itu seperti yang dijelaskan dalam Surat An Nisa tersebut ialah seseorang yang mabuk.

Sedangkan bagi seseorang yang akan melaksanakan puasa tetapi baru saja berhubungan suami istri di malam hari dan tidak sempat melaksanakan mandi wajib, puasanya tetap sah. Kondisi ini sering menjadi pertanyaan bagi umat Islam, bagaimana kalau belum mandi wajib tapi puasa, apakah sah?

Dijelaskan dalam surah Al Baqarah ayat 187 bahwa dihalalkan bagi umat Islam bercampur dengan suami istri di bulan puasa. Bunyi firman Allah Swt yang membicarakan hal tersebut adalah sebagai berikut.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Akhilla lakum lailatasyiyaamirrofsu illanisaaaikum hunnalibaas lakumwa antum libass lahunna

Artinya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al Baqarah: 187)

Meskipun demikian, kamu harus segera mandi wajib keesokan harinya agar tubuh bersih dari hadasr besar. Tindakan ini berdasarkan hadist yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Ngannga issata waummisalamatarodhiya allahunganhumaa anna annabiyaa kaanayusbikhu juubamminjimaa ngisumma yaghtasilu wayassyummu

Artinya: Dari Aisyah dan Ummi Salamah radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW memasuki waktu shubuh dalam keadaan berjanabah karena jima’, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat sah melaksanakan puasa ramadhan

Dalam melaksanakan puasa ramadhan, ada beberapa syarat sah yang jika terpenuhi semuanya kita akan memperoleh pahala.

Syarat sah melaksanakan puasa Ramadan meliputi:

  1. Beragama Islam
  2. Sudah balight atau cukup umur untuk menjalankan ibadah puasa. Anak-anak kecil belum diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Akan tetapi, diperbolehkan untuk melatih anak-anak berpuasa saat usianya sudah tujuh tahun.
  3. Syarat sah puasa berikutnya ialah berakal. Oleh karenanya, seseorang yang gila tidak diwajibkan untuk berpuasa.
  4. Jasmaninya harus sehat, sesuai dengan firman Allah Swt surah Al Baqarah ayat 185 berikut,

وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ

Wamankaa namadhoo aungalaa safar fangiddatumminnyaaminkhorra

Artinya: “…Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…”

  1. Ia dalam keadaan mampu. Jika dalam keadaan sakit, atau usianya tidak memungkinkan puasa, serta tidak sedang dalam perjalanan yang menyulitkannya puasa. Hal ini sesuai firman Allah Swt dalam surah Al Baqarah ayat 184 berikut.

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ

Wangalladdi nayyuthiikhunahu fidyaatun thongaammumiskiin

Artinya: “…Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin…”

  1. Bagi wanita yang mengalami haid atau nifas, tidak diwajibkan puasa ramadhan tetapi di kemudian hari mengganti puasa tersebut.

Bacaan niat puasa ramadhan

Syarat wajib agar puasa sah adalah melafalkan niat puasa ramadhan. Adapun niat puasa ramadhan arab, latin, dan artinya adalah sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i fardhi syahri Ramadhâni hâdzihis sanati lillâhi ta’âla.

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta’ala.”

Ketika sudah melaksanakan puasa ramadhan dalam sehari penuh, saat berbuka puasa didahului dengan membaca doa buka puasa sebagai berikut.

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.

Artinya: “Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Tata cara puasa ramadhan

Dalam keadan mampu, seorang muslim melaksanakan puasa ramadhan dengan tata cara sebagai berikut.

  1. Melafalkan niat di malam hari atau ketika akan melaksanakan sahur dan sebelum memasuki waktu subuh.
  2. Makan sahur diutamakan untuk dilakukan sebelum menjelang waktu masuk subuh atau sebelum imsak.
  3. Melaksanakan puasa sejak subuh sampai matahari tenggelam, menjaga dan menahan diri dari segala macam hal yang dapat membatalkan puasa.
  4. Saat waktu berbuka puasa sudah tiba, segera berbuka puasa dengan melafalkan doa berbuka terlebih dahulu.

Demikian itu penjelasan belum mandi wajib tapi puasa. Semoga bermanfaat.

Tidang Pandang Bulu, Ketahuan Buka Bersama, Siap-siap Kena Saksi

IDPOST.CO.ID – Aparatur Sipil Negara (ASN) termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilarang berbuka puasa bersama pada bulan Ramadhan tahun ini.

Jika kedapatan ada ASN atau PNS yang nekad melanggar akan mendapat saksi yang sudah ditetapkan.

Larangan itu disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), tercantum dalam surat Sekretaris Kabinet tentang Instruksi Terkaik Buka Puasa Bersama.

Baca juga : Hukum Mencium Suami atau Istri Saat Puasa

Surat itu ditandatangani Sekretaris Kabinet Pramono Anung pada 21 Maret 2023.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas mengatakan larangan tersebut sudah ada pada Ramadhan tahun lalu.

“Arahan Presiden Jokowi tersebut demi kebaikan bersama, dan sebenarnya ini juga telah dilakukan pada Ramadan tahun lalu,” katanya.

“Intinya kita harus tetap berhati-hati, karena ini transisi dari pandemi Covid-19 menuju endemi,” lanjutnya.

Baca juga : Cepat Buat Haus, Makanan dan Minuman Ini Harus Dihindari Saat Puasa

Ditegasnya, baik menteri sampai pemerintah daerah harus mematuhi aturan yang sudah tertuang dalam instruksi.

Hukum Mencium Suami atau Istri Saat Puasa

IDPOST.CO.ID – Puasa tidak hanya berkaitan dengan minum atau makan . Tetapi umat Islam disuruh untuk mengendalikan diri menahan hawa nafsu supaya puasa tidak batal.

Salah satunya yang menggagalkan puasa ialah terkait hubungan badan. Meski bersama pasangan yang syah. Tapi apa hukum yang juga berlaku bila berciuman dengan suami atau istri?

Laporan HaiBunda tahun 2022 lalu, anggota Seksi Fatwa dan Peningkatan Bimbingan Pimpinan Majelis Tarjih danTajdid PP Muhammadiyah, Lailatis Syarifah mengarah ke hadist sah. Disebutkan Nabi Muhammad sebelumnya pernah mencium Aisyah istrinya saat dalam kondisi puasa.

Baca juga : Cepat Buat Haus, Makanan dan Minuman Ini Harus Dihindari Saat Puasa

Aisyah telah berkata, “Nabi SAW pernah mendekatiku untuk menciumku, lalu aku berkata, “Aku sedang berpuasa”, maka beliau bersabda, “Aku juga sedang berpuasa”, kemudian beliau menciumku”. (HR. An-Nasa`i).

Merujuk pada hadist itu, maka ciuman antar pasangan tidak membatalkan puasa. “Berdasarkan hadits tersebut, bisa dipahami kalau berarti ciuman antara suami dan istri tidak membatalkan puasa,” kata Lailatis.

Sebagai catatan, kecupan sebagai wujud pernyataan kasih sayang dan tidak memberi rangsangan seksual. Bila memacu air mani atau sperma maka membuat puasa jadi batal.

Baca juga : Bisa Sebabkan Kolestrol, Berikut Daftar Makan yang Harus Dihindari

Menjadi tetap bisa mesra bersama pasangan syah sepanjang bulan puasa ini. Asal tidak sampai terikut nafsu dan melakukan hubungan seks.

Cepat Buat Haus, Makanan dan Minuman Ini Harus Dihindari Saat Puasa

IDPOST.CO.ID – Bulan suci Ramadan adalah peristiwa yang paling dinantikan oleh umat Muslim di penjuru dunia. Sepanjang bulan Ramadan, umat Muslim diharuskan meredam lapar, haus, dan nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Sering kali, mayoritas orang tidak demikian memerdulikan konsumsi makan saat sahur karena mereka mempertimbangkan, sehingga menambah konsumsi minuman dan makanan karena itu menambah besar juga ketahanan saat berpuasa, walau sebenarnya penyeleksian minuman dan makanan secara arif penting untuk dilaksanakan supaya badan tidak cepat lapar dan haus.

Ada beberapa macam makanan yang penting dijauhi sepanjang bulan Ramadhan, khususnya saat sahur supaya tidak cepat haus sepanjang berpuasa. Apa sajakah? berikut kesimpulannya.

Baca juga : Korban Puting Beliung Pasuruan, Belum Terima Bantuan Dari Pemerintah

1. Makanan yang Terlampau Manis

Makanan manis kerap jadi opsi khusus menjadi makanan pendamping buka puasa, bahkan kadang juga saat sahur sebagai makanan penutup.

Tapi, kebanyakan konsumsi makanan manis tidak disarankan saat sahur karena bisa mengakibatkan kandungan gula darah bertambah hingga membuat insulin terlepas, glukosa turun di bawah batas normal, dan mengakibatkan rasa haus, capek, dan ngantuk.

Ini Manfaat Memberi Makan Pada Orang yang Berbuka Puasa

IDPOST.CO.ID – Memberi makan dan minum pada orang yang berbuka puasa sangat banyak manfaatnya. Salah satu balasan yang Allah janjikan yaitu balasan akan diberi minuman dari telaganya dihari kiamat nanti.

Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ibnu Hibban dari kitab At-Targhib menyatakan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah SWT akan memberinya minuman dari telagaku (pada hari kiamat) yang membuatnya tidak akan haus selama-lamanya hingga ia masuk surga.

Kemudian, dari Sayyidina Salman Radhiyallahu anhu, ia berkata pada bulan sya’ban, baginda Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami. Beliau bersabda, wahai manusia, telah dekat kepadamu bulan yang agung lagi penuh berkah.

Bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan yang didalamnya Allah SWT menjadikan puasa sebagai fardhu dan bangun malam (Shalat terawih) Sebagai sunnah.

Barang siapa mendekatkan diri didalamnya dengan beramal sunnah, maka pahalanya seperti orang yang beramal fardhu pada bulan lain. Dan Barang siapa beramal fardhu di dalamnya, maka pahalanya seperti orang yang beramal tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lain.

Inilah bulan kesabaran, dan pahala sabar adalah surga. Inilah bulan kasih sayang, bulan saat rezeki seorang mukmin ditambah. Barang siapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang berpuasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya dan menjadi sebab selamat dari neraka.

Selain itu, juga mendapat pahala yang sama dengan orang yang berpuasa yang diberi makanan untuk berbuka, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.

Lalu mereka berkata, “ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa,”. Beliau kemudia bersabda “Allah SWTmemberi pahala ini kepada orang yang memberi makanan untuk berbuka puasa, meskipun sebutir kurma, seteguk air, atau seteguk susu, (tidak harus sampai kenyang).