Perlintasan Tanpa Palang Pintu Telan Korban, Warga Purworejo Terserempet KA Prameks

IDPOST.ID – Sebuah kecelakaan maut kembali merenggut nyawa di perlintasan kereta api tanpa palang pintu.

Korban tewas dalam insiden tragis yang terjadi di Perlintasan 624 Tegal Kuning, Km 486+1/2, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Selasa (30/9/2025) pagi.

Korban identified sebagai Pawit Trisnawati (43), warga Dukuh Ngemplak RT 2/RW 4, Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo.

Perempuan paruh baya itu meninggal dunia setelah terserempet Kereta Api Pramexs 501 relasi Yogyakarta-Kutoarjo sekitar pukul 06.30 WIB.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan Kapolsek Banyuurip Iptu Muslim, kejadian pertama kali dilaporkan oleh warga yang melihat ada orang terserempet kereta.

“Dari keterangan sementara, korban melaju dari arah utara menuju selatan. Sementara KA Prameks 501 dari arah timur ke barat. Diduga korban tidak waspada saat melintas karena di lokasi memang tidak terdapat palang pintu,” jelas Iptu Muslim kepada IDPOST.ID.

Langkah Aparat Kepolisian

Tim dari Polsek Banyuurip langsung bergerak cepat menuju lokasi usai mendapat laporan. Mereka berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Purworejo dan PMI setempat.

“Setibanya di TKP, kami lakukan pengamanan, olah TKP, dan mengumpulkan keterangan saksi,” imbuh Kapolsek.

Proses identifikasi korban dilakukan melalui pemindaian sidik jari oleh Tim Inafis. Korban mengalami luka parah di bagian kepala dan sejumlah anggota tubuh lainnya yang mengakibatkan kematian di tempat kejadian.

Petani Bayan Purworejo Mengeluh Kekeringan Belasan Tahun, DPUPR: DI Kragilan Wewenang Pemprov Jateng

IDPOST.ID – Keluhan petani di Kecamatan Bayan, Purworejo, akhirnya mendapat jawaban resmi. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Purworejo membuka suara terkait saluran irigasi Daerah Irigasi (DI) Kragilan yang rusak dan menyebabkan sawah kekeringan selama belasan tahun.

Melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air, Muhammad Ngadnan, DPUPR Purworejo menegaskan bahwa wewenang penanganan DI Kragilan sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“DI Kragilan memang menjadi kewenangan Pusdataru Provinsi Jawa Tengah. Bukan kabupaten yang bisa menangani langsung,” tegas Ngadnan, Senin (29/9/2025).

Ngadnan memaparkan, saluran DI Kragilan membentang sepanjang 10 kilometer dari Desa Kragilan hingga Desa Beringin. Saat ini, kondisi saluran sebagian besar sudah rusak parah.

“Dari pengecekan lapangan, saluran banyak yang lapuk, tertutup sedimentasi, dan mengalami degradasi fungsi. Beberapa hari ini ada normalisasi 3-4 kilometer yang dikerjakan Balai PSDA Probolo, tapi kami tidak tahu detail anggarannya,” ujarnya.

Sudah Kirim Surat Sejak 2023, Tapi Tak Ditindaklanjuti

DPUPR Purworejo mengaku telah mengambil langkah formal dengan mengirimkan surat permohonan penanganan ke Pemprov Jateng sejak 2023.

“Kami sudah kirim surat lengkap dengan data kerusakan. Namun sampai 2025 belum ada tindak lanjut signifikan. Rehab yang ada tahun ini sepenuhnya dikelola provinsi tanpa melibatkan kabupaten,” jelas Ngadnan.

Dukung Swasembada Pangan Nasional, Polres Purworejo Gelar Panen Raya Jagung

IDPOST.ID – Jajaran Polres Purworejo bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo menggelar Panen Raya Jagung Serentak Kuartal III pada Senin (29/9/25), sebagai wujud nyata dukungan terhadap program swasembada pangan nasional 2025.

Kegiatan yang berlangsung di lahan seluas dua hektar di Dusun Magelangan, Desa Majir, Kecamatan Kutoarjo ini memanfaatkan tanah bengkok desa yang dioptimalkan untuk pertanian jagung di musim kemarau.

Kapolres Purworejo AKBP Andry Agustiano, menegaskan komitmen penuhnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami sangat mendukung ketahanan pangan nasional sebagai wujud nyata kerjasama TNI-POLRI dan pihak terkait untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penyemangat bagi seluruh pihak, khususnya petani, untuk terus menanam, memanen, dan menjaga negeri melalui pertanian yang mandiri dan berdaya tahan tinggi.

Sebelum pelaksanaan panen secara fisik, Kapolres Purworejo beserta jajaran terlebih dahulu mengikuti zoom meeting Panen Serentak yang dipimpin langsung oleh Kapolri, menunjukkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang terintegrasi.

Varietas jagung yang dipanen meliputi jenis unggul P.27, P.40, dan Bisi.16 dengan usia panen antara 100-105 hari, membuktikan optimalisasi lahan kering yang produktif.

NU Loano Purworejo Bangun Gedung Rp4 Miliar, Warga Longmarch ke Magelang sebagai Syukur

IDPOST.ID – Di tengah maraknya pemberitaan seputar isu korupsi di berbagai kalangan, sebuah kisah inspiratif justru lahir dari warga Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Loano, Purworejo, Jawa Tengah.

Dengan semangat gotong royong, mereka berhasil mengumpulkan dana hingga miliaran rupiah untuk membeli tanah dan membangun gedung MWC NU.

Perjuangan dimulai sejak 2019, dengan warga secara konsisten berinfaq setiap Selasa hingga akhirnya terkumpul dana sekitar Rp4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun gedung yang kini telah resmi berdiri.

Yang membuat kisah ini semakin mengharukan adalah nadzar yang diucapkan Bendahara MWC NU Loano, Heri. Ia bersama tiga rekannya berjanji akan berjalan kaki ke Makam KH Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang sejauh 20 kilometer jika pembangunan gedung berhasil diselesaikan.

“Awalnya yang nadzar adalah bendahara, tapi semua warga NU ikut membersamai, total sekitar 1.200 orang,” ujar Kyai Hasyim, Ketua Panitia.

Momen longmarch pun berlangsung meriah, diikuti jamaah lintas generasi, mulai dari IPNU, Fatayat, hingga Muslimat. Tak hanya menjadi bentuk syukur, acara ini juga diharapkan dapat merekatkan ukhuwah warga NU.

Heri mengungkapkan, nadzar tersebut lahir karena rasa haru atas kebersamaan dan kegigihan warga dalam berinfaq. “Saya gak nyangka nadzar saya ini banyak yang ikut menemani jalan kaki,” ujarnya.

Ribuan Santri Padati Ponpes Daarut Tauhid Purworejo, Doakan 40 Hari Wafat Abah Thoifur

IDPOST.ID – Ribuan santri dan masyarakat dari berbagai daerah memadati Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Kedungsari, Purworejo, untuk mengikuti acara peringatan 40 hari wafatnya ulama kharismatik se-Tanah Jawa, KH Muhammad Thoifur Mawardi atau yang akrab disapa Abah Thoifur.

Gelaran doa bersama ini merupakan tradisi Islami untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan maghfiroh dan ridho Allah SWT, sekaligus menyambung silaturahmi.

Acara yang berlangsung khidmat itu dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan lokal, antara lain Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo, KH Asmui Mawardi, Dandim 0708, Kapolres Purworejo yang diwakili Wakapolres, serta sejumlah habib, kyai, dan ulama besar se-Jawa.

Abah Thoifur, putra dari KH.R. Mawardi, menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (19/8/2025) sore. Sang ulama yang lahir pada 8 Agustus 1956 itu kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Pondok Pesantren Daarut Tauhid pada Rabu (20/8/2025) siang.

Jaga Warisan Pesantren

Dalam kesempatan itu, putra pertama almarhum, KH Sahnun Thoifur Mawardi atau Gus Sahnun, dengan penuh khidmat memimpin doa untuk sang ayahanda.

Ia mengajak ribuan santri dan masyarakat yang memenuhi area makam, aula, dan sepanjang kompleks pesantren untuk bersama-sama mendoakan almarhum.

“Malam ini kita semua berkumpul untuk mendoakan ayahanda dan sekaligus ulama besar, untuk mengenang 40 hari yang belum lama ini meninggalkan kita,” ucap Gus Sahnun.

Sukses Besar, Purworejo Open 2025 Jadi Magnet Sport Tourism Jawa Tengah

IDPOST.ID – Ajang kompetisi olahraga bergengsi, Purworejo Open 2025, menyedot perhatian masyarakat. Lomba balap sepeda yang digelar di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Sabtu dan Minggu (27-28 September 2025) ini sukses menghadirkan gelaran yang meriah dan penuh semangat sportivitas.

Balap sepeda seringkali dianggap memiliki kasta tersendiri dalam dunia olahraga, dimana ketahanan fisik, strategi, dan tekad diadu di hadapan ratusan pasang mata penonton. Purworejo Open 2025 menjadi bukti nyata betapa menariknya ajang perlombaan ini.

Kejuaraan yang diselenggarakan oleh Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kabupaten Purworejo dengan dukungan penuh pengurus provinsi ini diikuti oleh ratusan pembalap dari berbagai usia, mulai dari kategori dini hingga Master Play.

Sebanyak tiga kategori diperlombakan, yaitu Cross-Country Olympic (XCO), Individual Time Trial (ITT), dan Criterium.

Yang membuat event ini istimewa adalah cakupan pesertanya yang luas. Tidak hanya diikuti oleh pembalap lokal Purworejo, ajang ini juga menarik minat atlet dari berbagai penjuru Indonesia.

“Kejuaraan ini diikuti 314 atlet yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Madura, Bali, Riau, dan juga ada peserta dari Kalimantan,” ucap Aan, salah seorang panitia, dalam laporannya.

Lomba kategori Criterium digelar pada Sabtu (27/9/2025) di sekitar Alun-alun Purworejo, dengan start dan finish di depan halaman Kantor Bupati Purworejo, yang menyajikan pemandangan menarik bagi penonton.

Kategori Individual Time Trial (ITT) digelar Minggu pagi di sepanjang Jalan Daendels yang legendaris, sementara kategori Cross-Country Olympic (XCO) berlangsung pada Minggu siang di Heroes Park yang menantang.

Acara pembukaan yang berlangsung meriah dihadiri oleh Plt Asisten Sekda Bidang Perekonomian, Suranto, yang mewakili Bupati Purworejo, beserta jajaran forkopimda dan Ketua KONI Kabupaten Purworejo, Muhammad Abdullah.

Dalam sambutannya, Suranto mengapresiasi panitia penyelenggara dan menyatakan kebanggaannya karena Purworejo terpilih sebagai lokasi pembinaan dan lomba ISSI tingkat Jawa Tengah.

Ia menegaskan dukungan penuh bagi tujuan kegiatan sebagai bagian dari pengembangan sport tourism di Purworejo.

Sementara itu, Ketua KONI Kabupaten Purworejo, Muhammad Abdullah, menyatakan bahwa Purworejo Open layak mendapat apresiasi tinggi, baik dari sisi penyelenggaraan maupun kualitas peserta.

“Selain sebagai ajang kompetisi olahraga khususnya balap sepeda, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang promosi bagi Purworejo. Ke depan kita berharap event-event seperti ini terus dapat dilaksanakan bahkan ditingkatkan,” tandas Abdullah.

Melalui event ini, panitia berharap Purworejo Open dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi bagi atlet untuk menuju Kejurkab dan Kejurprov, tetapi juga sebagai media promosi wisata olahraga yang andal bagi Kabupaten Purworejo.

Jamin Tidak Ada Kasus Keracunan, Kodim Purworejo Siap Kawal Program MBG

IDPOST.ID – Komandan Kodim (Dandim) 0708 Purworejo, Letkol Inf Imam Purwoko, menegaskan tidak ada satu pun kasus keracunan yang terjadi di seluruh dapur program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makan bergizi gratis di Purworejo.

Pernyataan ini disampaikan Imam Purwoko saat memimpin rapat bersama para kepala dapur se-Kabupaten Purworejo di Makodim setempat, Jumat (26/9/2025) sore.

“Kami pastikan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan terkait keracunan atau hal-hal negatif lainnya dari dapur-dapur yang memberikan layanan makan bergizi gratis. Semuanya dalam kondisi aman dan terkendali,” tegas Imam Purwoko.

Dia menambahkan, pihaknya secara aktif melakukan pendampingan terhadap operasional dapur-dapur tersebut. Tujuannya untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan tetap bergizi, aman, dan memenuhi standar.

“Alhamdulillah, beberapa dapur bahkan sudah menjadi percontohan. Mereka menyajikan menu yang variatif, bergizi, dan disukai oleh para penerima manfaat,” lanjutnya.

Dijelaskannya, saat ini sudah tercatat 17 dapur yang aktif memberikan pelayanan makan bergizi gratis di Purworejo.

“InsyaAllah, mulai hari Senin nanti akan bertambah dua dapur lagi yang mulai beroperasi,” terang Imam Purwoko.

Sebagai satuan kewilayahan TNI AD, Kodim 0708 Purworejo berkomitmen penuh mendukung pemerintah dalam menjaga kelancaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami berharap, melalui program ini, generasi muda kita akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan siap mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” pungkas Dandim.

Belasan Tahun Air Irigasi di Purworejo Tak Mengalir, Petani 8 Desa Pasrah Hadapi Kekeringan

IDPOST.ID – Ratusan hektar sawah di sejumlah desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, mengering dan terancam puso. Penyebabnya, saluran irigasi dari Daerah Irigasi (DI) Kragilan tak lagi mengalirkan air selama hampir 15 tahun terakhir.

Keluhan pahit ini paling dirasakan oleh petani di Desa Sambeng dan tujuh desa sekitarnya di wilayah Bayan Utara.

Puluhan spanduk protes yang terpasang di sepanjang saluran irigasi menjadi bukti nyata keputusasaan mereka.

Kepala Desa Sambeng, Toni Irawan, membenarkan bahwa spanduk-spanduk itu adalah akumulasi kekecewaan petani yang sudah menanti perbaikan selama belasan tahun.

“Setiap musrenbangcam (musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan), kami selalu mengusulkan persoalan ini. Namun hingga detik ini, belum ada realisasi nyata dari pihak terkait,” ujar Toni kepada awak media di lokasi irigasi, Jumat (26/9/2025).

Toni menyebutkan, kerusakan di bagian hulu diduga menjadi pangkal masalah. Akibatnya, delapan desa seperti Sambeng, Jrakah, Beringin, Pucang Agung, Pekutan, Besole, Bandungrejo, dan sebagian Desa Bayan tak kebagian air. Hanya Desa Seren di Kecamatan Gebang yang kadang masih mendapat, meski debitnya sangat kecil.

“Harapan saya sederhana, air bisa mengalir normal kembali. Air adalah sumber kehidupan petani. Jika irigasi lancar, cita-cita pemerintah mencapai ketahanan pangan akan lebih mudah diraih di Bayan Utara,” tegasnya.

Sudah Tak Ada Musim Tanam Ketiga

Keluhan serupa disampaikan Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Jrakah, Budi Santoso (58). Ia menegaskan bahwa pemasangan spanduk adalah langkah terakhir setelah berbagai pertemuan dengan pihak berwenang tak membuahkan solusi.

“Lebih dari 15 tahun air tak mengalir. Rapat-rapat sudah sering, tapi tidak ada tindak lanjut. Petani sangat dirugikan. Dulu kami bisa tanam hingga tiga kali (MT 1, MT 2, bahkan MT 3). Sekarang, untuk sekali tanam saja seringkali kekurangan air,” ratap Budi.

Dijelaskannya, pintu air DI Kragilan yang terletak di Mlaran, Kecamatan Gebang, mengambil air dari Bendung Kaliglagah dan Ngaglik. Pada masa lalu, air berlimpah dan bisa mencapai Desa Bandungrejo, Besole, hingga Bayan.

Kini, kondisi itu tinggal kenangan. Sekitar 1.300 hektare lahan pertanian tak lagi mendapat pasokan air.

Para petani pun mendesak pemerintah untuk segera turun tangan dan mengambil langkah konkret. Tanpa kepastian iritasi, produktivitas pertanian di Bayan Utara akan terus merosot dan mengancam target ketahanan pangan nasional.