Membangun Hubungan yang Sehat: Kapan dan Bagaimana Memberikan Kritik

IDPOST.CO.ID – Hanya karena Anda mencintai seseorang tidak berarti dia sempurna. Setiap orang membutuhkan umpan balik untuk tumbuh. Hubungan seharusnya menjadi tentang membuat satu sama lain menjadi lebih baik, mendorong untuk mencapai potensi maksimal.

Jika kita berasal dari kalangan yang baik, terkadang kritik yang membangun diperlukan dalam suatu hubungan. Jadi, jika Anda merasa perlu memberikan kritik pada pasangan, mungkin itu adalah tindakan yang benar. Berikut adalah enam situasi di mana kritik Anda terhadap pasangan bisa dianggap valid.

Ada masalah kesehatan dan keselamatan: Keseimbangan dalam hidup itu penting. Jika pasangan Anda terlibat dalam perilaku yang merugikan kesehatan dan keselamatannya, memberikan kritik adalah langkah yang tepat.

Ini bisa melibatkan konsumsi alkohol berlebihan, keputusan yang tidak bertanggung jawab, atau pola makan yang tidak sehat. Kuncinya adalah moderasi.

Keputusan keuangan yang buruk

Pasangan Anda terus membuat keputusan keuangan yang buruk, menghabiskan uang secara sembarangan atau menumpuk utang. Diskusi terbuka mengenai keputusan fiskal dapat membantu membangun keuangan yang sehat.

Perbedaan dalam pola asuh

Jika Anda memiliki anak bersama, menyatukan gaya pengasuhan menjadi penting. Jika pasangan Anda memiliki pendekatan yang berbeda, kritik yang membangun dapat membantu menciptakan kesepakatan tentang cara terbaik mendidik anak.

Kurangnya komunikasi

Keterbatasan dalam berkomunikasi bisa menjadi masalah serius dalam hubungan. Mengakui kekurangan ini dan memberikan kritik yang konstruktif dapat membantu meningkatkan komunikasi.

Tidak melakukan tugasnya

Keseimbangan dalam membagi tugas rumah tangga perlu dijaga. Jika pasangan Anda tidak melakukan tugasnya, memberikan kritik yang membangun dapat membantu menciptakan dinamika yang sehat.

Perilaku memengaruhi persahabatan

Jika perilaku pasangan memalukan di depan orang lain, memberikan kritik adalah tindakan yang masuk akal. Jika itu mempengaruhi hubungan dengan teman-teman atau keluarga, perlu dibahas.

Pentingnya komunikasi dalam suatu hubungan tidak dapat dilebih-lebihkan. Dalam semua situasi ini, kritik harus disampaikan dengan kebaikan hati, tujuannya adalah memberi semangat, bukan menyakiti. Penerimaan terhadap kritik juga perlu dipertimbangkan sebagai tanda kematangan hubungan.”

Orang Gemuk Ternyata Bisa Sehat, Berikut Syaratnya?

IDPOST.CO.ID – Benar-benar gampang untuk berpikiran jika orang yang alami peningkatan berat tubuh 100% mempunyai permasalahan kesehatan.

Tetapi, ada hasil riset yang memperlihatkan karena akibat ada orang sehat yang tidak mempunyai tekanan darah tinggi, diabetes, atau dislipidemia walaupun mereka alami kegemukan, jadi tidak gampang untuk mengaitkan jika “karena hanya berat tubuh semakin bertambah, Anda tidak sehat.

Sebuah tim peneliti dari New Jersey College of Medicine and Pre-Dentistry meneliti lingkar pinggang, tekanan darah, trigliserida, kolesterol kepadatan tinggi, dan gula darah puasa dari 454 orang dewasa dengan indeks massa tubuh (BMI) 30 atau lebih tinggi, yang mana digolongkan sebagai obesitas. BMI adalah berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (㎡).

Rata-rata persentase lemak tubuh subjek survei adalah 46%, sehingga jelas terlihat bahwa mereka mengalami obesitas.

Secara umum, lebih dari 25% pria dan 30% wanita tergolong obesitas.

Ketika tim peneliti menganalisis hasil survei, ditemukan 135 orang sebagai ‘orang gemuk sehat’ yang tidak melebihi kisaran standar untuk kriteria diagnostik apa pun.

Meskipun jumlah tersebut kurang dari 167 orang dengan ‘obesitas tidak sehat’, namun 30% diantaranya ditemukan bebas dari masalah kesehatan.

Orang gemuk yang sehat memiliki usia rata-rata 37,4 tahun dan sebagian besar adalah perempuan.

Meskipun BMI dan persentase lemak tubuh mereka tinggi, mereka tidak memiliki tanda-tanda yang mengancam kesehatan terkait dengan obesitas, seperti tekanan darah tinggi atau peningkatan kadar gula darah dan kolesterol.

Secara khusus, ditemukan bahwa tidak ada seorang pun yang menerima pengobatan untuk masalah gula darah atau kolesterol.

Di sisi lain, orang dengan ‘obesitas morbid’ memiliki usia rata-rata 54,4 tahun dan rentan terhadap penyakit kronis terkait obesitas.

29 orang menerima pengobatan diabetes, dan sekitar 50 orang diberi resep obat untuk menurunkan kadar kolesterol mereka. 37 orang pernah mendapat resep obat darah tinggi.

Tim peneliti mengatakan, “Di antara orang-orang yang tergolong obesitas, 20 hingga 30 persennya adalah orang-orang gemuk yang sehat dan tidak memiliki penyakit terkait obesitas.

Untuk mengatasi obesitas, perlu ditentukan kriteria obesitas seperti obesitas sehat dan obesitas morbid dengan lebih cermat.” “Dia menjelaskan.

Hasil penelitian ini (Obesitas tidak selalu berarti tidak sehat) dipublikasikan oleh New Jersey College of Medicine and Pre-Dentistry.