LDNU Pragaan Sumenep Hidupkan Semangat Santri Lewat Kajian Kesantrian di Era Digital

ID POST – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pragaan Sumenep kembali menggelar Kajian Kesantrian dengan mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 13 Oktober 2025, di Lembaga Pendidikan Islam Nurul Ihsan, Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan.

Kajian tersebut menjadi ruang refleksi dan pembinaan bagi para santri untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus meneguhkan jati diri ke-NU-an di tengah tantangan zaman modern.

Pengurus LDNU Pragaan, Gus Hamidi, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya LDNU untuk terus menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah (Aswaja) di kalangan santri muda.

“Santri tidak boleh kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi. Kajian ini diharapkan mampu mengokohkan semangat ke-NU-an dan nasionalisme di hati para santri,” ungkapnya.

Gus Hamidi menambahkan, Kajian Kesantrian tidak hanya berlangsung satu hari, tetapi akan digelar secara berkelanjutan di sejumlah lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren di wilayah Pragaan selama 15 hari ke depan.

Warga dan Budayawan Sumenep Protes Festival Garam, Dituding Hanya Proyek Seremonial Belaka

IDPOST.ID – Gelaran Festival Garam di Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Sumenep terus menuai protes dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari budayawan, warga setempat juga menyatakan kekecewaannya atas penyelenggaraan festival yang dinilai hanya sebagai proyek seremonial belaka.

Pemuda Desa Pinggirpapas, Syamsul Hadi ST, dengan tegas menyatakan bahwa festival tersebut tidak lahir dari musyawarah warga.

“Ini pesta pora yang mengatasnamakan kearifan lokal. Kami warga tidak pernah dilibatkan,” ujarnya dengan nada kecewa, Senin (22/9/2025).

Budayawan Tadjul Arifien R menambahkan, festival yang digelar tanpa kajian budaya mendalam hanya memperkuat citra pemerintah yang lebih senang dengan pesta seremonial.

“Jangan jadikan sejarah sekadar hiasan seremonial. Narasi Arya Wiraraja saja sering dibelokkan,” kritiknya.

Polemik semakin memanas dengan munculnya dugaan keterlibatan PT Garam dalam penginisiasi acara. Namun, Humas PT Garam, Miftahul Arifien, membantah keras keterlibatan tersebut.

“Itu murni acara Dinas Pariwisata. PT Garam tidak ada hubungannya. Bahkan saya sendiri tidak hadir karena ada acara lain,” tegasnya.

Kritik Pedas Festival Garam, Budayawn: Hanya Hamburkan APBD Sumenep

IDPOST.ID – Gelaran Festival Garam di Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, kembali menuai polemik dan kritik tajam. Budayawan Sumenep, Tadjul Arifien R, menyebut festival yang diklaim mengangkat potensi lokal itu tak lebih dari seremonial mubazir yang menghambur-hamburkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Acara besar seperti ini hanya menghamburkan APBD. Padahal Mendagri Tito Karnavian sudah jelas mengingatkan agar daerah mengurangi seremonial dan lebih fokus pada efisiensi anggaran,” tegas Tadjul, Senin (22/9/2025).

Budayawan yang dikenal vokal ini menyoroti tingginya angka kemiskinan di Sumenep yang mencapai 17,78 persen, dengan lebih dari 200 ribu warga masih rawan pangan.

Menurutnya, alangkah lebih baik jika dana ratusan juta rupiah untuk festival dialokasikan untuk mengatasi masalah kemiskinan.

“Lebih dari 200 ribu warga Sumenep masih rawan pangan. Angka kemiskinan mencapai 17,78 persen. Mengapa dana ratusan juta rupiah dipakai untuk acara hura-hura?” tanyanya dengan nada prihatin.

Tadjul bahkan menyindir dengan sarkasme, “Kalau begini terus, ubah saja julukan Sumenep dari Kota Keris menjadi Kota Seremonial.”

Kritik serupa sebelumnya juga disampaikan pemuda Desa Pinggirpapas, Syamsul Hadi ST, yang menuding festival tidak melibatkan partisipasi warga.

Budayawan Sumenep Apresiasi MEC, Sebut Strategi Kebudayaan yang Edukatif dan Milenial

IDPOST.ID – Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar, memberikan apresiasi mendalam terhadap penyelenggaraan Madura Ethnic Carnival (MEC) 2025.

Menurutnya, karnaval tahunan yang digelar di Kabupaten Sumenep ini bukan sekadar pertunjukan kemeriahan, tetapi telah menjadi ruang edukasi dan strategi kebudayaan yang efektif.

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa MEC memiliki kekhasan yang membedakannya dengan karnaval lain di Jawa Timur.

“Saya melihat MEC bukan hanya sekadar pesta budaya. Di balik tampilan yang hedonis, ada pesan filosofi mendalam yang mengajarkan kita pada perenungan, pelestarian, dan penyelamatan nilai-nilai budaya warisan nenek moyang,” ujar Ibnu Hajar.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa panitia berhasil meramu substansi kebudayaan dengan cara yang mendidik. Mulai dari penggunaan bahan-bahan lokal seperti tarebung (tempurung kelapa) dan rakara (janur) dalam kostum, hingga pengolahan tema-tema budaya yang berkembang dari tahun ke tahun.

“MEC justru menunjukkan bahwa budaya bisa dikemas dengan cara modern tanpa kehilangan makna aslinya. Ada ciri khas personal yang membedakan MEC dengan karnaval di kota lain. Inilah identitas Sumenep yang harus terus dijaga,” tegasnya.

Ibnu Hajar menilai MEC telah hadir sebagai strategi kebudayaan yang tepat untuk memperkenalkan simbol, nilai, dan filosofi kebudayaan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Karnaval Budaya Terbesar di Madura, MEC 2025 Sukses Guncang Sumenep

IDPOST.ID – Ribuan penonton memadati area depan Labang Mesem Keraton Sumenep, Sabtu (20/9/2025), untuk menyaksikan langsung kemeriahan Madura Ethnic Carnival (MEC) 2025.

Karnaval budaya terbesar di Madura ini sukses menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan usia.

Mengusung tema “Topeng”, ajang tahunan ini menampilkan 103 peserta yang terbagi dalam berbagai kategori, yakni pelajar, umum, hingga grand show.

Peserta datang dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, seperti Sumenep, Pamekasan, Sampang, Surabaya, Malang, Jember, Bondowoso, Lamongan, dan Banyuwangi.

Ketua Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) M. Hariri menyatakan bahwa MEC memiliki peran penting dalam melestarikan tradisi dan budaya Madura.

“Kami berharap melalui acara ini, generasi muda Madura semakin mengenal dan mencintai warisan budaya leluhur mereka,” kata Hariri.

Tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, MEC juga menjadi momentum untuk mempromosikan kekayaan budaya Madura kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dapur MBG Sigap Ganti Menu Bau, Siswa di Pragaan Dapatkan Makanan Baru

SUMENEP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Pragaan sempat mendapat sorotan pada Senin (9/9/2025). Hal ini terjadi setelah sejumlah sekolah melaporkan bahwa menu yang disajikan pada hari tersebut diduga berbau tidak sedap dan tidak layak konsumsi.

Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, beberapa sekolah di Pragaan menerima lauk berupa daging ayam yang kualitasnya dinilai tidak segar. Kondisi ini memicu keluhan dari pihak guru hingga orang tua murid yang khawatir jika makanan tersebut dikonsumsi siswa dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Menanggapi laporan tersebut, pihak dapur MBG yang berada di bawah koordinasi H. Rudi langsung melakukan tindakan cepat dengan mengganti menu yang terindikasi bermasalah. Lauk ayam yang dianggap tidak layak segera ditarik dan diganti dengan makanan baru yang lebih terjamin kesegarannya. Dengan langkah ini, siswa tetap bisa menikmati makanan sesuai porsi yang dijanjikan dalam program pemerintah.

H. Rudi selaku penanggung jawab dapur MBG Pragaan menegaskan, kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pihaknya. Ia berkomitmen untuk memperketat sistem pengawasan, mulai dari tahap pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.

“Kami tidak ingin hal seperti ini terulang. Makanan yang disajikan kepada siswa harus benar-benar sehat, segar, dan bergizi sesuai tujuan program. Ke depan, pengawasan akan kami tingkatkan agar kualitas tetap terjaga,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Lebih lanjut, H. Rudi menyebutkan bahwa dapur MBG bekerja sama dengan sejumlah pemasok bahan makanan lokal. Ia mengakui, terkadang kendala distribusi bahan dapat memengaruhi kualitas, terutama untuk daging segar. Karena itu, pihaknya akan menyeleksi lebih ketat pemasok yang dianggap mampu menjaga standar kualitas.

Pihak sekolah di Pragaan menyambut positif langkah cepat yang dilakukan dapur MBG. Salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa tindakan sigap ini sangat membantu sehingga siswa tetap bisa mendapatkan hak mereka tanpa harus terganggu dengan insiden menu bermasalah.

“Kalau tidak segera diganti, tentu siswa akan kecewa. Apalagi program ini ditunggu-tunggu setiap hari. Kami berharap kejadian seperti ini bisa jadi pelajaran agar lebih baik lagi ke depan,” tutur salah seorang guru.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan gizi siswa di sekolah, khususnya di wilayah pelosok. Dengan adanya program ini, diharapkan anak-anak bisa lebih fokus belajar karena kebutuhan gizinya tercukupi.

Meski sempat ada kendala, langkah cepat pihak dapur MBG Pragaan menuai apresiasi dari banyak pihak. Masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi, sehingga program unggulan pemerintah ini bisa berjalan maksimal dan memberikan manfaat nyata bagi generasi muda.

BPRS Bhakti Sumekar Kembali Ukir Prestasi, Sabet KEJAR Award 2025

SUMENEP – PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) Bhakti Sumekar (Perseroda) kembali mengharumkan nama Kabupaten Sumenep di panggung nasional. Lembaga keuangan syariah milik daerah ini berhasil meraih penghargaan sebagai Bank Implementasi KEJAR Terbaik BPR/S Wilayah Tengah pada ajang KEJAR Award 2025 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jumat 22 Agustus 2025 di Jakarta.

Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen BPRS Bhakti Sumekar dalam menjalankan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Melalui produk unggulan Berani Simpanan Pelajar (SimPel), bank ini mendorong para pelajar untuk membangun kebiasaan menabung sejak dini.

Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar, menyampaikan apresiasinya atas capaian tersebut.
“Penghargaan ini merupakan bukti nyata dari kerja sama tim yang solid serta dukungan masyarakat dan nasabah. InsyaAllah, prestasi ini akan menjadi motivasi untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah di Sumenep,” ujarnya.

Tak hanya berhenti pada program SimPel, BPRS Bhakti Sumekar juga mengembangkan BBS Sekolah, sebuah inovasi digital yang mempermudah akses layanan perbankan di lingkungan sekolah. Terobosan ini menjadi bukti bahwa bank daerah tersebut tidak sekadar berfokus pada bisnis, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung pendidikan keuangan generasi muda sekaligus pertumbuhan ekonomi lokal.

Dengan penghargaan bergengsi ini, BPRS Bhakti Sumekar semakin menegaskan posisinya sebagai bank syariah daerah yang visioner, inovatif, dan konsisten memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Baznas Sumenep Bantu Janda Lansia Melalui Program RTLH

IDPOST.ID – Upaya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep dalam menyejahterakan masyarakat kembali terlihat nyata. Pada Senin (17/6/2025), Baznas menyerahkan bantuan program Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) kepada seorang janda lanjut usia, Asmani (60), yang tinggal di Dusun Tajjan, Desa Salopeng, Kecamatan Dasuk.

Asmani yang sehari-hari berdagang ikan bakar, selama ini tinggal di rumah tua peninggalan suaminya. Kondisi bangunan yang memprihatinkan dan kerap bocor saat hujan membuatnya hidup dalam ketidaknyamanan dan rasa waswas.

“Setiap hujan deras turun, saya selalu cemas. Rumah ini sudah lapuk dan sering bocor. Saya bersyukur sekali, akhirnya ada bantuan dari Baznas yang peduli pada kondisi saya,” ucap Asmani dengan mata berkaca-kaca.

Ketua Baznas Sumenep, Ahmad Rahman, mengatakan bahwa bantuan ini diberikan setelah pihaknya melakukan peninjauan langsung ke kediaman Asmani dan menilai bahwa kondisi rumahnya memang sudah sangat tidak layak.

“Melalui program RTLH dalam skema Sumenep Peduli, kami memberikan bantuan perbaikan rumah agar Ibu Asmani bisa tinggal dengan aman dan nyaman. Ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap warga yang membutuhkan,” jelas Ahmad Rahman.

Ia juga menegaskan bahwa Baznas akan terus berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat. Program RTLH sendiri merupakan salah satu dari lima program prioritas Baznas Sumenep.

Ahmad Rahman turut mengajak masyarakat, khususnya para muzaki, untuk terus mendukung program Baznas melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan secara resmi.

“Dengan dukungan para dermawan, kita bisa memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Setiap kontribusi sangat berarti bagi kehidupan mereka,” tandasnya.

Baznas Sumenep berharap, bantuan RTLH yang diberikan tak hanya memperbaiki kondisi fisik rumah, tetapi juga membangkitkan semangat hidup penerima manfaat.